Jakarta - Siap-siap terkejut! Sebuah kebijakan kontroversial baru saja dikeluarkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang membuat banyak pihak bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa sebuah dapur bisa terancam tutup hanya karena masalah sayur? Mari kita bedah fakta-faktanya!

Wajibkan Dapur MBG Serap Sayur Binaan Lapas, BGN: Tolak, Kami Tutup!

Badan Gizi Nasional (BGN) membuat gebrakan baru dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebuah ultimatum dilayangkan kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Purwakarta, Jawa Barat. Isinya? Mereka wajib menyerap sayuran hasil budidaya warga binaan Lapas Kelas II.

Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa dapur yang berani menolak akan langsung ditutup. "Nanti masukkan ke SPPG, Korcam dan juga Korwil sampaikan. Kalau itu dari binaan Lapas harus diterima. Kalau nggak diterima saya tutup dapurnya. Tutup. Enggak ada cerita!” tegas Nanik saat menghadiri kegiatan pemberdayaan warga binaan menjadi petani lokal dilansir dari Kompas.com (15/2).

Latar Belakang Kebijakan Kontroversial

Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya pemberdayaan warga binaan di Lapas. BGN ingin memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkontribusi positif melalui pertanian. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat mendukung program MBG dengan pasokan sayuran yang berkelanjutan.

Namun, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Beberapa pihak mempertanyakan kualitas sayuran yang dihasilkan oleh warga binaan. Apakah memenuhi standar gizi yang dibutuhkan? Bagaimana dengan proses distribusinya?


Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang (Foto Biro Hukum dan Humas BGN)

Pengawasan Ketat untuk Jamin Kualitas

BGN menyadari betul kekhawatiran tersebut. Oleh karena itu, pengawasan ketat akan dilakukan di setiap tahapan. Kepala SPPG diminta untuk mengawal proses sejak memasak di dapur hingga makanan tiba di sekolah penerima manfaat.