Emiten transportasi listrik milik Grup Bakrie, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), menunjukkan performa pendapatan yang cukup kontras pada tahun buku 2025. Meski berhasil mencatatkan kenaikan penjualan neto hingga menyentuh angka Rp1,09 triliun, perseroan justru harus menelan pil pahit berupa kerugian bersih. Lonjakan pada berbagai pos beban operasional menjadi faktor utama yang menggerus profitabilitas perusahaan di tengah upaya ekspansi kendaraan listrik.
Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, total penjualan VKTR tumbuh sebesar 8,53% dibandingkan pencapaian tahun 2024 yang berada di angka Rp1 triliun. Segmen perdagangan komponen suku cadang masih mendominasi dengan kontribusi Rp863,12 miliar, sementara penjualan kendaraan listrik melonjak tajam hingga 59,98%. Namun, beban pokok penjualan juga ikut terkerek naik menjadi Rp892,63 miliar yang didominasi oleh biaya manufaktur dan perdagangan.
Meskipun laba bruto masih tercatat positif di angka Rp196,61 miliar, tekanan mulai terasa ketika total beban usaha membengkak 11,36% menjadi Rp187,91 miliar. Akibatnya, laba usaha perseroan menyusut 7,59% menjadi Rp8,69 miliar jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan beban keuangan yang signifikan dari Rp10,63 miliar menjadi Rp17,08 miliar pada akhir 2025.
Dampak dari berbagai kenaikan beban tersebut membuat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berbalik menjadi minus Rp11,37 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan performa tahun 2024 di mana perseroan masih mampu membukukan laba bersih senilai Rp7,57 miliar. Penurunan laba neto secara keseluruhan tercatat sangat drastis, yakni mencapai 96,56% secara tahunan dibandingkan periode laporan keuangan sebelumnya.
Chief Executive Officer VKTR, A. Ardiansyah Bakrie, menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan akselerasi pengiriman kendaraan listrik yang semakin masif. Ia juga menekankan adanya perbaikan strategi harga pada segmen kendaraan listrik yang membantu memperkuat margin laba kotor perusahaan. "Pada akhir tahun 2025, perseroan telah menyelesaikan pengiriman 50 unit bus listrik untuk operator Transjakarta sebagai bagian dari total pemesanan 80 unit," ungkapnya dalam rilis resmi.
Selain proyek Transjakarta, VKTR juga telah menyalurkan berbagai armada listrik ke sektor swasta dan instansi pemerintah daerah. Perseroan tercatat telah menyerahkan unit compactor dan dump truck listrik kepada Dinas Lingkungan Hidup serta Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta. Hingga penghujung 2025, total kumulatif penjualan mereka mencapai 135 unit bus, 24 unit truk, dan 13 unit forklift berbasis listrik yang tersebar di berbagai industri.
Dari sisi posisi keuangan, total aset VKTR tumbuh 11,79% menjadi Rp1,79 triliun, yang diiringi dengan kenaikan liabilitas sebesar 22,17%. Lonjakan utang ini dipicu oleh pinjaman jangka panjang baru dari Bank MNC Internasional Tbk. guna mendukung operasional serta pengembangan bisnis perusahaan ke depan. Meski menghadapi tantangan profitabilitas, manajemen tetap optimis melihat tren positif penerimaan pasar terhadap ekosistem transportasi berkelanjutan di Indonesia.
Sumber: Market.bisnis