JAKARTA, BisnisMarket.com - Sebuah kisah tragis dan mengejutkan terjadi di Padang, Sumatera Barat. Seorang pria berinisial IK (36) nekat membakar ibu angkatnya, AY (50), hingga mengalami luka bakar serius. Peristiwa ini bukan sekadar insiden biasa, melainkan sebuah ledakan emosi yang memicu trauma mendalam dan menimbulkan pertanyaan besar tentang batasan kemarahan manusia.
Kisah Tragis di Balik Insiden Mengerikan
Peristiwa mengerikan ini terjadi di kantor PT Lubuk Basung Ekspres, Jalan Prof. Dr. Hamka, Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 15.50 WIB. Menurut Kapolsek Padang Utara AKP Yuliadi, pelaku yang sehari-hari bekerja sebagai agen ini, dilaporkan nekat menyiramkan bahan bakar minyak jenis Pertalite ke tubuh ibu angkatnya, AY, dan menyulutnya hingga terbakar. “Kejadian ini bermula saat terduga pelaku diduga sakit hati terhadap ucapan ibu angkatnya,” ujarnya dikutip dari Kompas.com (13/3).
Saksi di lokasi langsung berusaha memadamkan api yang membakar tubuh korban. Ayah dari korban segera membawa AY ke RS Siti Rahmah Padang, namun luka bakar yang dialami sangat parah. Luka bakar derajat 2A menutupi sekitar 90 persen tubuh korban, sehingga akhirnya dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang untuk mendapatkan perawatan intensif.
Luka Berat dan Keputusan Mengejutkan Pelaku
Kondisi luka bakar yang cukup serius membuat keluarga dan aparat kepolisian merasa prihatin sekaligus penasaran dengan motif di balik aksi nekat tersebut. “Pelaku menyerahkan diri ke polisi setelah melakukan perbuatan ini,” terang AKP Yuliadi. Saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan mendalam, mengumpulkan bukti, dan memeriksa saksi terkait kasus ini.
Kasus yang Mengguncang Hati dan Mengundang Pertanyaan
Peristiwa ini bukan hanya soal kekerasan, tetapi juga refleksi dari emosi yang tak terkendali. Bagaimana seorang pria bisa kehilangan kendali hingga melakukan tindakan ekstrem yang mengancam nyawa orang yang selama ini dianggap sebagai orang tua sendiri? Kasus ini menjadi pengingat bahwa kemarahan harus dikendalikan, dan konflik harus diselesaikan dengan kepala dingin.
Pernyataan dari Tersangka dan Korban