JAKARTA, BisnisMarket.com- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyorot rapuhnya rantai pasok global.

Selat Hormuz, jalur vital penghubung Teluk Persia dan Samudra Hindia, menjadi titik strategis di mana sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap hari.

Lonjakan premi asuransi maritim dan penundaan pelayaran kapal tanker akibat konflik 2026 menjadi pengingat nyata akan pentingnya manajemen risiko dalam perdagangan internasional.

Fauzan Fadel Muhammad Berpendapat Bahwa Bagi Indonesia, perhatian terhadap jalur logistik tak kalah penting. Selat Malaka, jalur perdagangan yang dilalui lebih dari 90.000 kapal setiap tahun, membawa sekitar 25% perdagangan dunia.

“Posisi geografis Indonesia menuntut kita tidak hanya menjadi pengguna jalur perdagangan, tapi juga membangun kapasitas untuk menjadi simpul logistik utama di Asia,” kata pengusaha muda Fauzan Fadel Muhammad, B.Eng (Hons), MBA, dalam wawancara eksklusif.

Namun, tantangan domestik masih besar. Biaya logistik nasional mencapai 14–15% dari PDB, hampir dua kali lipat negara maju. Transformasi sektor logistik pun menjadi agenda strategis.

PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) kini mengelola lebih dari 90% pelabuhan strategis nasional, mendorong digitalisasi dan efisiensi operasional. Sementara KAI Logistik memperkuat transportasi multimoda, dan Pelni tetap menjadi tulang punggung distribusi antar pulau, khususnya wilayah timur Indonesia.

Tak kalah penting, asuransi memainkan peran krusial. Perusahaan BUMN seperti Jasa Raharja, Jasindo, Askrindo, dan Jamkrindo menyediakan perlindungan mulai dari kecelakaan transportasi hingga penjaminan perdagangan, memastikan aktivitas logistik berjalan dengan aman dan berkelanjutan.

Fauzan menegaskan, “Integrasi logistik dan asuransi adalah fondasi untuk menciptakan ketahanan rantai pasok nasional yang tangguh.”