JAKARTA, BisnisMarket.com - Di tengah badai krisis pasokan bahan baku plastik yang membuat harga meroket dan mengancam kelangsungan usaha jutaan UMKM di Indonesia, secercah harapan muncul dari sumber yang tak terduga: singkong dan rumput laut. Bayangkan saja, di saat industri bergantung pada nafta yang pasokannya terganggu akibat konflik global, kekayaan alam lokal justru siap menjadi pahlawan penyelamat. Mampukah dua komoditas sederhana ini menjadi kunci revolusi industri plastik nasional dan mendongkrak kembali omzet UMKM yang terpuruk?
Ancaman Nyata: Krisis Nafta dan Dampaknya ke UMKM
Dilansir dari Bloomberg Technoz (10/4), Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan keprihatinannya atas dampak krisis pasokan nafta. "Keterbatasan pasokan nafta, yang membuat harga plastik lebih mahal tersebut belakangan turut membuat UMKM ikut terdampak dengan penurunan omzet mencapai sekitar 50 persen," ujarnya. Ketergantungan Indonesia yang tinggi pada impor bahan baku plastik, mencapai 55 persen, semakin memperparah situasi. Ironisnya, sekitar 70 persen distribusi bahan baku ini melewati jalur Selat Hormuz yang kini bergejolak, mengganggu rantai pasok global secara masif. Padahal, mayoritas pengusaha UMKM di sektor makanan dan minuman masih sangat bergantung pada kemasan plastik, yang mendominasi pasar domestik hingga 67,61 persen pada tahun 2025.
Solusi Jitu: Singkong dan Rumput Laut Siap Menggempur Pasar
Di tengah ancaman tersebut, Maman Abdurrahman menawarkan solusi inovatif yang berakar pada potensi lokal. Ia mendorong penggunaan singkong dan rumput laut sebagai substitusi bahan baku nafta. "Jika kebijakan diarahkan untuk memperkuat substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut, maka permintaan akan tumbuh dan biaya produksi dapat ditekan," jelas Maman. Kedua bahan baku ini dinilai melimpah di Indonesia, namun terkendala pasar yang belum terbentuk optimal, sehingga biaya produksi masih relatif tinggi. Dengan dorongan kebijakan yang tepat, Maman optimis permintaan akan meningkat, menekan biaya produksi, dan membuka pintu lebar bagi efisiensi ekonomi.
Peluang Emas: Industri Hijau dan Pasar Ekspor Terbuka Lebar
Pengembangan bahan baku alternatif ini bukan sekadar solusi darurat atas krisis pasokan. Lebih dari itu, ini adalah peluang emas untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal yang berkelanjutan. "Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” tegas Maman. Pengembangan ini akan membuka peluang usaha baru bagi pengusaha UMKM, sekaligus memperkuat ekosistem industri yang ramah lingkungan dan mandiri. Kabar baiknya, beberapa pengusaha UMKM di sektor ini bahkan telah memulai produksi plastik berbasis rumput laut dan berhasil menembus pasar ekspor, membuktikan potensi besar yang belum tergarap.
Langkah Strategis Pemerintah dan Potensi Bisnis Masa Depan
Kementerian UMKM, bersama kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah, terus berkoordinasi merumuskan langkah strategis untuk menjaga stabilitas rantai pasok bahan baku plastik nasional. Pemerintah juga tengah mengkaji berbagai kebijakan pendukung, termasuk subsidi penggunaan bioplastik, penguatan fasilitas produksi bersama, penerapan prinsip pengurangan penggunaan plastik, serta program pelatihan dan pendampingan untuk mendorong gaya hidup ramah lingkungan.