JAKARTA, BisnisMarket.com - Sebuah kabar mengejutkan datang dari salah satu BUMN konstruksi terbesar di Indonesia, PT PP (Persero) Tbk (PTPP). Bagaimana tidak, di tengah geliat ekonomi yang diharapkan pulih, PTPP justru melaporkan kinerja keuangan yang mencengangkan di tahun 2025. Angka kerugian bersihnya meroket hingga 344 persen, sebuah pukulan telak yang membuat para investor dan pengamat ekonomi geleng-geleng kepala. Mari kita bedah tuntas apa yang sebenarnya terjadi di balik laporan keuangan yang bikin bergidik ini!

Terpuruk dalam Jurang Kerugian: Angka yang Tak Terbayangkan

PTPP mencatatkan rugi bersih sebesar Rp6,75 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini membengkak secara signifikan sebesar 344 persen dibandingkan dengan kerugian Rp1,52 triliun pada tahun sebelumnya. Sebuah lonjakan kerugian yang luar biasa, menandakan adanya masalah fundamental yang serius dalam operasional perusahaan.

Pendapatan perseroan pun tak luput dari hantaman badai. Dilansir dari Bloomberg Technoz (4/4), pendapatan PTPP turun 18 persen menjadi Rp16,27 triliun dari Rp19,81 triliun pada tahun 2024. Penurunan ini mencerminkan tekanan hebat pada lini bisnis konstruksi, yang tampaknya sedang berjuang keras di tengah perlambatan proyek dan tantangan eksekusi yang kian kompleks.

Biang Kerok Kerugian: Beban Impairment dan Utang yang Menghantui

Faktor utama yang menyeret kinerja PTPP ke jurang terdalam adalah lonjakan kerugian penurunan nilai atau impairment. Beban impairment ini melonjak drastis hingga mencapai Rp7,35 triliun, sebuah angka yang jauh melampaui Rp356,26 miliar pada tahun sebelumnya. Lonjakan impairment ini menjadi momok menakutkan yang menggerogoti laba perusahaan, membuatnya terperosok lebih dalam ke zona merah.

Tak hanya itu, beban keuangan PTPP juga terpantau tetap tinggi, berada di level Rp2,13 triliun. Angka ini bahkan naik sebesar 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,89 triliun. Tingginya beban keuangan ini tak lepas dari tekanan pada struktur pendanaan perusahaan dan beban bunga atas utang yang masih membebani neraca keuangan PTPP.

Neraca Keuangan yang Mengkhawatirkan: Ekuitas Menipis, Liabilitas Membengkak

Dari sisi neraca, gambaran yang tersaji semakin mengkhawatirkan. Tekanan terlihat jelas pada penurunan ekuitas yang anjlok tajam menjadi Rp4,30 triliun dari Rp12,38 triliun pada tahun 2024. Penurunan ekuitas ini mengindikasikan berkurangnya nilai aset bersih perusahaan, sebuah sinyal yang patut diwaspadai oleh para pemegang saham.