JAKARTA, BisnisMarket.com - Di tengah upaya efisiensi dengan memangkas ratusan karyawan dan menutup sejumlah gerai, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) justru menelan pil pahit. Laba perusahaan ritel legendaris ini dilaporkan anjlok signifikan, menimbulkan pertanyaan besar tentang strategi bisnis yang dijalankan. Benarkah efisiensi berujung petaka bagi Ramayana?

Kinerja Keuangan yang Mengejutkan

Tahun 2025 menjadi periode yang berat bagi Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS). Perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp265,28 miliar, angka ini susut 15,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp356,34 miliar. Penurunan laba ini tentu menjadi pukulan telak, terutama mengingat langkah-langkah restrukturisasi yang telah diambil.

Mengutip laporan keuangan perseroan, penurunan kinerja ini tercermin dari anjloknya penjualan. Penjualan barang beli putus RALS sepanjang 2025 turun menjadi Rp1,72 triliun, merosot dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,05 triliun. Tak hanya itu, komisi penjualan konsinyasi juga mengalami penurunan sebesar 8,44 persen secara tahunan, menjadi Rp642,94 miliar. Alhasil, total pendapatan perusahaan terkoreksi menjadi Rp2,36 triliun, berbanding dengan Rp2,76 triliun pada tahun sebelumnya.

Efisiensi yang Berujung Kontradiksi

Tren penurunan kinerja ini terjadi bersamaan dengan upaya manajemen untuk melakukan efisiensi. Dilansir dari Bloomberg Technoz (29/3), manajemen RALS memangkas 427 karyawan sepanjang tahun lalu. Jumlah karyawan RALS pada 2025 tercatat sebanyak 2.968 orang, menyusut dari 3.395 orang pada tahun sebelumnya. Selain itu, empat toko Ramayana juga terpaksa ditutup, menyisakan 86 gerai pada tahun 2025, berkurang dari 90 unit pada tahun sebelumnya. Unit bisnis Robinson dan Cahaya tetap beroperasi masing-masing dengan tiga dan dua unit.

Upaya efisiensi ini seharusnya berdampak positif pada pos pengeluaran. Tercatat, beban pokok penjualan barang beli putus bergerak ke level Rp1,12 triliun sepanjang 2025. Beban penjualan dan beban umum serta administrasi masing-masing tercatat sebesar Rp80,02 miliar dan Rp1,08 triliun. Namun, angka-angka ini tampaknya belum mampu menahan laju penurunan laba.

Analisis Ekonomi Bisnis: Apa yang Perlu Diwaspadai?

Dari kacamata ekonomi bisnis, penurunan laba Ramayana di tengah upaya efisiensi ini memunculkan beberapa poin penting. Pertama, strategi pemangkasan karyawan dan penutupan toko, meskipun bertujuan menekan biaya, bisa jadi belum mampu mengkompensasi penurunan pendapatan yang lebih dalam. Hal ini mengindikasikan adanya masalah fundamental pada daya saing produk atau strategi pemasaran perusahaan.