JAKARTA, BisnisMarket.com – Langkah kontroversial Amerika Serikat yang memulai blokade terhadap pelabuhan Iran kini menjadi sorotan utama di pasar global. Kebijakan ini berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dunia, khususnya pada sektor energi yang sangat bergantung pada jalur distribusi vital melalui Selat Hormuz.
Meskipun harga minyak dunia sempat mengalami penurunan di tengah optimisme akan adanya dialog internasional, kondisi geopolitik yang semakin memanas memunculkan kekhawatiran mendalam. Situasi ini, menurut pengamat ekonomi, bukan hanya sekadar isu regional yang dapat diabaikan, tetapi berpotensi mempengaruhi seluruh struktur perekonomian global, bahkan negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Ekonom terkemuka, Noviardi Ferzi, mengungkapkan bahwa kebijakan blokade AS ini tidak hanya mengancam Iran, tetapi juga akan memengaruhi pasar energi dunia secara keseluruhan. Menurutnya, jalur distribusi minyak yang melintasi wilayah Timur Tengah adalah rute strategis yang harus dijaga agar pasokan energi tidak terganggu. Jika gangguan ini terus berlanjut, maka dampak langsung yang akan terasa adalah lonjakan harga energi yang tak terhindarkan.
“Ketika distribusi minyak terganggu, volatilitas harga akan meningkat tajam. Ini tentu berpotensi memperburuk inflasi dan meningkatkan biaya produksi di berbagai negara. Negara berkembang, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada energi eksternal akan merasakan dampaknya secara langsung,” ujar Noviardi dalam sebuah wawancara eksklusif di Jakarta pada Selasa (14/4).
Walaupun pasar merespons positif dengan turunnya harga minyak akibat harapan bahwa dialog internasional akan segera dimulai, situasi ini dinilai hanya bersifat sementara. Noviardi menegaskan bahwa gejolak harga energi bisa kembali terjadi seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global.