JAKARTA, BisnisMarket.com - Sebuah kejadian tak terduga dialami oleh Hartono, seorang sopir bus PO Riyan, yang berujung pada keterlibatannya dalam operasi besar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Perjalanan yang awalnya dikira hanya mengantar rombongan untuk acara buka bersama (bukber) berubah drastis menjadi momen menegangkan saat ia menyadari bahwa penumpangnya adalah pihak-pihak yang diamankan dalam Operasi Tangkap Tangan KPK (OTT KPK) di Cilacap. Kejadian ini tentu saja menimbulkan rasa penasaran, bagaimana bisa sebuah agenda santai berubah menjadi peristiwa hukum yang melibatkan pejabat publik?
Momen Awal yang Tak Terduga
Hartono menceritakan pengalamannya yang penuh kejutan. Pada Jumat siang, ia menerima tugas untuk mengantar rombongan dari Cilacap menuju Purwokerto, Banyumas. Informasi yang diterimanya dari perusahaan otobus tempatnya bekerja menyebutkan bahwa rombongan tersebut hendak menghadiri acara buka bersama. Bahkan, ia sempat mengira tujuan akhirnya adalah mengantar penumpang ke stasiun. Bus berangkat sekitar pukul 14.00 WIB dari area Samsat Cilacap. "Saya kira mau buka bersama," ujarnya, dikutip dari TribunBanyumas, Jumat (13/3) via Kompas.com (14/3).
Selama perjalanan, suasana di dalam bus cukup santai, bahkan Hartono sempat memutar musik dengan volume yang cukup keras. Bus berkapasitas 50 penumpang itu hanya terisi sekitar 20 orang. Di antara penumpang, terdapat pula beberapa petugas dari KPK yang mendampingi rombongan. Namun, Hartono mengaku tidak menyadari siapa saja yang dibawanya, termasuk Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman yang turut diamankan. Ia juga tidak dapat membedakan petugas KPK karena semuanya mengenakan pakaian bebas. "Di dalam bus semuanya anteng. Kebanyakan memakai baju batik, dan ada pula yang sempat tidur," katanya.
Keterkejutan Sang Sopir
Hartono baru menyadari ada yang tidak biasa ketika bus diarahkan menuju Mapolresta Banyumas, bukan tempat acara yang ia bayangkan. "Saya kaget dan tidak menyangka. Awalnya saya kira hanya untuk kegiatan biasa, tapi diarahkan ke tempat Polresta Banyumas," ujarnya. Keterkejutannya semakin bertambah ketika mengetahui bahwa perjalanan tersebut berkaitan erat dengan OTT KPK.
OTT KPK Terkait Proyek di Cilacap
Operasi tangkap tangan yang dilakukan KPK di Cilacap pada Jumat (13/3/2026) ini berhasil mengamankan total 27 orang, termasuk Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan bahwa dugaan kasus ini terkait dengan penerimaan yang diterima oleh pihak Bupati berkaitan dengan proyek-proyek yang ada di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. "Diduga ada penerimaan yang diterima oleh pihak Bupati berkaitan dengan proyek-proyek yang ada di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah,” ujar Budi Prasetyo, dikutip dari Antara, Jumat.
OTT ini menjadi operasi tangkap tangan kesembilan yang dilakukan KPK sepanjang tahun 2026 dan yang ketiga selama bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya integritas dalam menjalankan tugas jabatan, serta bagaimana upaya penegakan hukum dapat terjadi di momen-momen yang paling tidak terduga sekalipun. (*)