BISNISMARKET.COM - Perkembangan kebijakan moneter global menunjukkan tren yang seragam pekan ini, di mana sejumlah bank sentral besar memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan mereka. Keputusan ini diambil bersamaan dengan peringatan keras mengenai potensi kenaikan inflasi lebih lanjut, terutama yang bersumber dari eskalasi konflik geopolitik yang berpotensi memicu kenaikan harga energi.
Bank-bank sentral yang menjadi sorotan meliputi Amerika Serikat (The Fed), Zona Euro, Inggris, Jepang, Kanada, Australia, dan beberapa negara maju lainnya. Meskipun suku bunga ditahan, nada yang dikeluarkan menunjukkan kesiapan untuk bertindak cepat jika tekanan inflasi tidak mereda sesuai harapan.
Situasi ini menyoroti dilema yang dihadapi para pembuat kebijakan dalam menyeimbangkan stabilitas pertumbuhan ekonomi dengan kebutuhan mengendalikan kenaikan harga yang meluas. Dilansir dari Reuters, berikut adalah rangkuman posisi suku bunga sepuluh bank sentral negara maju, diurutkan dari yang tertinggi hingga terendah.
Reserve Bank of Australia (RBA) saat ini memimpin dengan suku bunga kebijakan tertinggi di kelompok G10, yakni 4,1% setelah mengalami dua kali kenaikan sepanjang tahun ini. Pasar menunjukkan optimisme kuat bahwa RBA akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan pekan depan, dengan probabilitas sekitar 80% untuk setidaknya dua kenaikan tambahan hingga akhir tahun.
Tingginya inflasi menjadi dasar kekhawatiran RBA, di mana data terakhir menunjukkan inflasi utama mencapai 4,1% pada kuartal pertama dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini jauh melampaui target ideal RBA yang berada di rentang 2-3%, meskipun inflasi inti menunjukkan sedikit penurunan di level 3,5%.
Norges Bank Norwegia juga dijadwalkan mengadakan pertemuan pekan depan, setelah sebelumnya mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga satu hingga dua kali tahun ini. Bank sentral Norwegia menahan suku bunga pada level 4% di bulan Maret, didorong oleh meningkatnya tekanan inflasi akibat pertumbuhan upah yang kuat dan lonjakan biaya energi.
Bank of England (BoE) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di 3,75% pada hari Kamis, meskipun terdapat satu suara yang mendukung kenaikan suku bunga. Dalam langkah yang tidak biasa, BoE mengganti proyeksi sentral standar dengan tiga skenario berbeda untuk inflasi dan indikator ekonomi lainnya, di mana skenario terberat mengisyaratkan perlunya kenaikan biaya pinjaman secara "tegas".
Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat mempertahankan suku bunga pada hari Rabu dengan hasil voting 8 banding 4, yang merupakan selisih terkecil dalam beberapa dekade terakhir. Tiga pembuat kebijakan menentang arah kebijakan yang cenderung akomodatif, sementara satu orang memilih pemangkasan suku bunga.
Ketua The Fed yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Jerome Powell, memberikan sinyal bahwa perubahan arah kebijakan dapat dilakukan secepatnya pada bulan Juni, meskipun pernyataan kebijakan masih mempertahankan "bias pelonggaran". "Ketiga pejabat menolak arah kebijakan yang condong ke pelonggaran, sementara satu pejabat memilih pemangkasan suku bunga," ujar seorang analis pasar merujuk pada hasil voting tersebut.