JAKARTA, BisnisMarket.com – Eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di awal Maret 2026 telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi global.

Harga minyak mentah dunia meroket tajam, memicu kekhawatiran akan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Namun, di tengah tekanan inflasi energi ini, Presiden AS Donald Trump justru menunjukkan sikap yang sangat kontras dengan mengabaikan lonjakan harga bensin di negaranya.

Minyak Dunia Tembus US$85, Selat Hormuz Terancam

Sejak serangan udara diluncurkan pada Sabtu, 28 Februari 2026, harga minyak mentah jenis Brent telah melonjak lebih dari 16%, menembus angka US$85 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh aksi blokade di Selat Hormuz, jalur nadi yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Di Amerika Serikat, rata-rata harga bensin nasional melonjak 27 sen dalam sepekan menjadi US$3,25 per galon. Para analis memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, harga minyak bisa menyentuh angka psikologis US$120 per barel, mirip dengan situasi awal invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022 lalu.

Respons Dingin Trump

Menanggapi tekanan publik soal harga bahan bakar yang mencekik, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan yang mengejutkan dalam wawancara eksklusif baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa operasi militer untuk melumpuhkan infrastruktur nuklir dan pertahanan Iran adalah prioritas yang jauh lebih penting daripada harga di pompa bensin.

"Saya tidak khawatir sama sekali. Harga akan turun sangat cepat begitu ini (perang) selesai. Jika harga naik, ya naik saja. Ini jauh lebih penting daripada harga bensin yang naik sedikit," tegas Trump dari Gedung Putih (6/3/2026).