BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan terakhir pekan lalu dengan pelemahan signifikan sebesar 2,86%, berada di level 6.969,40 pada hari Jumat (8/5). Meskipun demikian, secara keseluruhan, IHSG masih mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,18% dalam periode mingguan.

Sentimen pasar sepanjang pekan ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh pembahasan revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2025 mengenai kenaikan tarif royalti mineral strategis. Pembahasan ini sedang aktif dilakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Faktor eksternal juga turut memberikan tekanan pada sentimen domestik, terlihat dari penurunan indeks ETF Indonesia EIDO sebesar 1,46% dan indeks MSCI Indonesia yang melemah 2,59%.

Kementerian ESDM sedang mengadakan sesi public hearing untuk membahas penyesuaian tarif royalti beberapa komoditas mineral kunci, termasuk tembaga, timah, nikel, emas, dan perak. Revisi aturan ini didorong oleh peningkatan signifikan rata-rata Harga Mineral Acuan (HMA) sepanjang tahun 2026.

Data menunjukkan lonjakan harga komoditas signifikan, di mana harga perak melonjak 107,4% menjadi US$79,27 per troy ons, timah naik 48,8% menjadi US$51.101 per ton, dan emas meningkat 40,6% menjadi US$4.746 per troy ons.

Usulan revisi tarif royalti mencakup kenaikan untuk tembaga dari 4%-7% menjadi 7%-10%, dan royalti emas diusulkan naik menjadi 14%-20% dari sebelumnya 7%-16%. Sementara itu, tarif perak diusulkan naik menjadi 6%-8% dari batas sebelumnya yaitu 5%.

Untuk komoditas timah, terdapat usulan kenaikan tarif menjadi 5%-12,5% dari kisaran 3%-10%, disertai penambahan beberapa lapisan tarif baru. Menariknya, tarif nikel diusulkan tidak berubah, meskipun terdapat penyesuaian pada interval harga dan jumlah bracket-nya.

Pemerintah juga mengusulkan skema baru berupa tambahan iuran tetap untuk Mineral Bukan Logam dan Batuan (MBLB) yang berada di atas batas 12 mil laut, serta penambahan beberapa jenis royalti baru.

Di sisi lain, saham BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) baru-baru ini masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) karena kepemilikan terpusatnya mencapai 95,82% dari total saham perusahaan.