BISNISMARKET.COM - Industri aset kripto global tengah menghadapi guncangan signifikan memasuki tahun 2026, khususnya pada empat bulan pertama periode tersebut. Guncangan ini sebagian besar disebabkan oleh aktivitas siber yang terkoordinasi dan terarah.
Temuan penting ini diungkapkan melalui riset komprehensif yang baru saja dirilis oleh perusahaan keamanan siber terkemuka, TRM Labs. Riset tersebut menganalisis tren kerugian akibat serangan siber sepanjang kuartal pertama tahun ini.
Secara spesifik, mayoritas kerugian finansial yang tercatat dalam periode tersebut dapat ditelusuri kembali kepada satu aktor negara tertentu. Aktor ini telah lama dikenal memiliki rekam jejak dalam operasi peretasan skala internasional.
Aktor yang dimaksud adalah kelompok peretas yang terafiliasi dengan Korea Utara. Keberadaan kelompok ini kembali menjadi sorotan utama dalam lanskap keamanan aset digital global saat ini.
Nilai total kerugian yang diakibatkan oleh aktivitas peretasan yang didominasi kelompok Korea Utara ini sangatlah besar. Total kerugian tersebut setara dengan kurang lebih US$577 juta.
Jika dikonversikan ke dalam mata uang lokal, angka tersebut mencapai nominal yang fantastis, mendekati Rp10 triliun. Angka ini menyoroti skala ancaman yang dihadapi oleh ekosistem kripto.
Dilansir dari TRM Labs, temuan ini menggarisbawahi bahwa ancaman siber dari entitas yang disponsori negara tetap menjadi risiko terbesar bagi sektor keuangan terdesentralisasi.
"Sebagian besar kerugian akibat peretasan berasal dari satu aktor, yakni Korea Utara," demikian hasil analisis yang disajikan oleh TRM Labs.
Fakta ini menunjukkan perlunya peningkatan koordinasi keamanan siber antar platform kripto untuk meredam dampak serangan di masa mendatang. Peristiwa ini menjadi penanda penting bagi tahun 2026.