JAKARTA, BisnisMarket.com - TransTRACK resmi mengumumkan percepatan ekspansi ke pasar Asia Tenggara dan Timur Tengah sebagai tonggak sejarah tujuh tahun pertumbuhan perusahaan. Langkah strategis ini memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia solusi fleet intelligence terkemuka setelah sukses melayani lebih dari 1.500 klien di berbagai negara.

Setelah menjajaki pasar Malaysia dan Arab Saudi, kini perusahaan membidik ekspansi lanjutan ke Vietnam, Thailand, hingga Kuwait. Upaya ini sejalan dengan proyeksi industri manajemen armada global yang diperkirakan akan menembus angka USD 120 miliar pada tahun 2035 mendatang.

Co-Founder & CEO TransTRACK, Anggia Meisesari, menyatakan bahwa momentum tahun ketujuh ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan eskalasi bisnis secara global. Beliau menekankan bahwa fokus utama perusahaan adalah menghadirkan solusi yang dapat ditingkatkan secara global namun tetap relevan dengan kebutuhan lokal di setiap pasar.

Saat ini, sektor logistik menghadapi tekanan besar terkait efisiensi operasional dan tuntutan kepatuhan terhadap prinsip ESG yang semakin ketat. TransTRACK menjawab tantangan tersebut melalui platform berbasis IoT dan AI yang terbukti mampu menurunkan emisi karbon hingga 28 persen bagi para penggunanya.

Co-Founder & CTO TransTRACK, Aris Pujud Kurniawan, menjelaskan bahwa platform mereka dibangun dengan sifat hardware-agnostic agar mudah diintegrasikan ke berbagai ekosistem digital. Menurutnya, masa depan industri tidak lagi bergantung pada intuisi semata, melainkan pada akuntabilitas data real-time dan kecerdasan buatan.

Kinerja bisnis perusahaan juga menunjukkan tren positif dengan catatan pendapatan mencapai USD 45 juta pada tahun 2025. Pertumbuhan ini didukung oleh model bisnis pendapatan berulang yang stabil serta tingkat retensi pelanggan yang sangat tinggi dengan angka churn hanya 0,6 persen.

Group CFO TransTRACK, Lim Boon Wei, mengungkapkan bahwa perusahaan kini memasuki fase pertumbuhan yang terukur dengan fondasi fundamental dan strategi permodalan yang disiplin. Model bisnis ini memberikan visibilitas pendapatan jangka panjang yang memungkinkan ekspansi agresif namun tetap menjaga profitabilitas perusahaan secara berkelanjutan.

Hingga tahun 2028, TransTRACK menargetkan penetrasi ke 10 sektor industri utama, termasuk sektor maritim, pertambangan, dan perkebunan di lebih dari 10 negara. Strategi ini akan difokuskan pada wilayah dengan potensi pasar besar yang memiliki karakteristik nilai pendapatan per pengguna yang tinggi.

Untuk mendukung ambisi tersebut, Singapura akan difungsikan sebagai pusat regional dalam mengorkestrasi seluruh operasional di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Melalui pengembangan talenta di TransTRACK Academy, perusahaan optimis dapat terus mendorong transformasi digital di industri fleet intelligence skala global.