JAKARTA, BisnisMarket.com -
Bayangkan dunia terguncang lagi, bukan lagi oleh kejutan, tapi karena kegagalan
berulang. Saat virus Ebola jenis Bundibugyo menyebar cepat dengan lebih dari
1.000 kasus, muncul pertanyaan menggelitik: apakah kita benar-benar sudah siap
jika bahaya yang lebih besar datang? Jawabannya ternyata mengejutkan dan
memilukan. Dilansir dari Bloomberg Technoz diakses pada (31/5), fakta-fakta di
lapangan menunjuk satu hal pahit: kita gagal lulus ujian ini, dan isyaratnya
sangat buruk.
Ujian yang Tak Lulus
Mantan pimpinan CDC AS, Tom Frieden, tegas
menyampaikan kenyataan pedas itu. “Wabah Ebola ini tidak akan menyebabkan
pandemi besar, tapi ini adalah ujian stres—dan ujian ini tidak berhasil dilalui
dunia. Saya akan mengatakan sejauh ini kita gagal, dan itu pertanda buruk untuk
masa depan,” ujarnya. Bagi dia, apa yang terjadi sekarang adalah cermin jelas
betapa lemahnya pertahanan kita menghadapi ancaman penyakit menular.
Badan Pengendalian Penyakit Afrika mencatat sudah ada
1.077 kasus dugaan yang terus bertambah. Penyebaran makin sulit dibendung
karena perbatasan Kongo, Uganda, hingga Rwanda ditutup sebagian, sehingga alur
bantuan dan koordinasi jadi tersendat parah. Belum lagi masalah paling
mendasar: kekurangan dana. Hanya ada janji bantuan sedikit lebih dari separuh
dari total kebutuhan 500 juta dolar AS. Bagaimana cara menangkal wabah kalau
sumber daya saja belum terpenuhi?
Pertahanan yang Makin Lemah
Masalah tak berhenti di situ. Frieden menyoroti
perubahan drastis yang melemahkan sistem kesehatan dunia, khususnya dari sisi
Amerika Serikat. “Pertahanan kita melemah. WHO perlu lebih kuat. CDC perlu
tangguh,” tegasnya. Dia mengkritik kebijakan yang memangkas lebih dari 3.000
tenaga kerja di CDC, menghentikan pembayaran iuran ke WHO, hingga pencopotan
pemimpin kunci. Dulu AS kerap mengirimkan dukungan transportasi udara untuk
percepatan penanganan, namun peran itu makin menghilang sejak perubahan pemerintahan.
Padahal, peran global sangat krusial. Tanpa kekuatan
lembaga kesehatan dunia yang solid, tanpa dukungan dana yang cukup, tanpa kerja
sama lintas negara yang lancar, setiap wabah kecil bisa tumbuh jadi ancaman
besar. Ebola hari ini bukan sekadar berita Afrika, tapi pelajaran keras untuk
kita semua. Jika untuk menangani satu jenis wabah saja kita masih kewalahan,
apa jadinya nanti saat muncul penyakit yang jauh lebih berbahaya dan cepat
menular?
Apa Artinya Bagi Kita?
Kegagalan ini bukan sekadar statistik atau berita
jauh. Ini cermin kesiapan kita sendiri. Setiap pemotongan anggaran, setiap
melemahnya lembaga, setiap hambatan kerja sama internasional, semuanya
menggerogoti benteng perlindungan kita. Wabah Ebola menjadi bukti nyata bahwa
janji kesiapan belum sejalan dengan kenyataan.