JAKARTA, BisnisMarket.com — Di tengah gempuran tren belanja online dan algoritma media sosial yang terus membujuk kita untuk membeli barang terbaru, sebuah gerakan perlawanan secara senyap sedang terjadi. Generasi muda kini mulai berbalik arah. Mereka berbondong-bondong mengadopsi apa yang disebut sebagai gaya hidup minimalis, atau yang belakangan populer dengan istilah "Quiet Living".

Bukan lagi sekadar tentang estetika rumah dengan cat dinding putih dan furnitur kayu yang sepi, minimalis telah bertransformasi menjadi sebuah filosofi hidup yang mendalam: mencari kebahagiaan dengan sengaja hidup bersama lebih sedikit barang.

Bagi sebagian orang, minimalis mungkin tampak seperti tren interior belaka. Namun, bagi para pelakunya, ini adalah upaya penyelamatan diri.

Selain kesehatan mental, faktor ekonomi dan lingkungan menjadi pendorong utama mengapa gaya hidup ini kian diminati. Ditengah situasi ekonomi yang menantang, minimalis menawarkan kebebasan finansial yang nyata.

Memulai hidup minimalis tidak berarti Anda harus membuang seluruh isi rumah Anda besok pagi. Ini adalah sebuah proses yang bertahap.Para pakar menyarankan beberapa langkah sederhana berikut untuk Anda yang ingin mencoba:

Aturan 90/90: Lihat sebuah barang. Apakah Anda menggunakannya dalam 90 hari terakhir? Jika tidak, apakah Anda akan menggunakannya dalam 90 hari ke depan? Jika kedua jawabannya adalah tidak, saatnya barang tersebut didonasikan atau dijual.

Satu Masuk, Satu Keluar (One In, One Out): Jika Anda membeli satu pakaian baru, Anda harus mengeluarkan satu pakaian lama dari lemari Anda. Ini menjaga volume barang di rumah tetap seimbang.

Batasi Stimulasi Digital: Hapus aplikasi belanja jika Anda merasa sulit menahan diri, atau minimal, matikan notifikasi flash sale yang kerap memicu kepanikan membeli (FOMO).

Pada akhirnya, minimalis bukanlah tentang seberapa ekstrem Anda bisa hidup dengan sedikit barang, melainkan tentang ruang yang Anda ciptakan setelah barang-barang tersebut pergi. Ruang untuk bernapas, ruang untuk menabung, dan ruang untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar berharga: pengalaman, hubungan antarmanusia, dan kedamaian pikiran.