JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda terpaku pada layar ponsel lebih lama dari yang direncanakan? Merasa bersalah karena waktu terbuang sia-sia, menyalahkan diri sendiri atas kurangnya disiplin? Ternyata, perasaan itu mungkin selama ini salah alamat. Sebuah fakta mengejutkan terungkap di ruang sidang Los Angeles, yang mengindikasikan bahwa kecanduan digital bukanlah murni kesalahan individu, melainkan hasil dari desain canggih yang disengaja oleh perusahaan teknologi raksasa.

Jejak Digital Sejak Dini: Sebuah Peringatan Keras

Di usia yang seharusnya masih polos dan penuh eksplorasi dunia nyata, anak-anak kini justru akrab dengan dunia maya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 mencatat bahwa 39,71 persen anak usia dini di Indonesia sudah menggunakan telepon seluler, dan 35,57 persen di antaranya sudah mengakses internet. Angka ini sungguh menggetarkan, terutama ketika dikaitkan dengan temuan Riskesdas 2023 yang menunjukkan prevalensi kecanduan gadget pada remaja melonjak dari 9,8 persen di tahun 2018 menjadi 24,7 persen dalam lima tahun. Tingkat kecemasan meningkat 41 persen, depresi naik 32 persen, dan perempuan 2,1 kali lebih rentan mengalami gangguan citra tubuh akibat paparan konten media sosial.

"Ilusi Kontrol": Jebakan Psikologis di Balik Layar

Dilansir dari Kompas.com (28/3) Gaia Bernstein, seorang profesor hukum dan penulis buku "Unwired: Gaining Control Over Addictive Technologies", menyebut fenomena ini sebagai "ilusi kontrol". Kita merasa bebas memilih berapa lama kita akan berselancar di dunia digital, padahal di balik layar, prinsip-prinsip psikologi yang mapan digunakan untuk membajak keputusan kita. Fitur seperti "pull to refresh" di Facebook dirancang menyerupai mekanisme mesin slot, memicu pelepasan dopamin setiap kali kita mendapatkan "hadiah" berupa like atau komentar. Begitu pula dengan fitur "autoplay" di YouTube yang menghilangkan momen krusial untuk berhenti, dan "infinite scroll" yang meniadakan titik akhir alami.

"Semua ini bukan kebetulan," tegas Bernstein. "Semua ini adalah produk dari tim insinyur berbayar yang tugasnya secara eksklusif adalah membuat kita tidak bisa berhenti beraktifitas digital." Pola ini disamakan dengan industri tembakau di masa lalu, yang menyalahkan individu atas kecanduan yang sejatinya diproduksi secara sistematis oleh perusahaan.

Indonesia di Garis Depan Krisis Adiksi Digital

Indonesia tak luput dari pusaran masalah ini. Sebagai negara dengan jumlah pengguna TikTok terbesar di dunia, menembus 157,6 juta pengguna, dan total pengguna internet mencapai 221 juta orang (79,5 persen populasi), kita menjadi salah satu arena terbesar permainan adiksi digital ini berlangsung. Stres, baik akademik maupun sosial, terbukti menjadi pintu masuk utama menuju kecanduan media sosial. Ketika seseorang merasa tertekan, cemas, atau kesepian, media sosial menjadi pelarian sementara yang terasa aman.

"Yang lebih berbahaya, semakin kesepian seseorang, semakin kuat efek stres dalam mendorong kecanduan itu," ungkap penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Psychology. Di Indonesia, konteks budaya yang berorientasi pada gengsi dan perbandingan sosial semakin memperparah situasi. Standar kecantikan di TikTok, misalnya, tidak hanya membandingkan penampilan, tetapi juga status sosial dan gaya hidup, menciptakan lahan subur bagi algoritma yang dirancang untuk membuat pengguna merasa hidup orang lain lebih berharga.