BISNISMARKET.COM - Grab Indonesia baru-baru ini menyelenggarakan sebuah forum strategis penting untuk para pelaku usaha nasional. Acara bertajuk Grab Business Forum 2026 ini digelar untuk membahas navigasi bisnis di tengah lanskap yang semakin menantang pada paruh kedua tahun 2026.
Forum tersebut mengusung tema sentral "The Next Chapter: Scale Smarter, Execute Faster". Tema ini menekankan pentingnya peningkatan skala bisnis yang didukung oleh kecerdasan strategis dan kecepatan dalam pelaksanaan rencana.
Acara ini berhasil menghimpun berbagai pemangku kepentingan kunci, termasuk para pemimpin korporasi, pembuat kebijakan pemerintah, serta para ekonom terkemuka. Diskusi difokuskan pada strategi adaptasi menghadapi berbagai kompleksitas pertumbuhan bisnis saat ini.
Salah satu tantangan utama yang menjadi sorotan adalah kondisi makroekonomi global yang tidak menentu. Hal ini mencakup ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, serta tekanan berkelanjutan pada rantai pasok global.
Selain faktor eksternal, forum juga menyoroti perubahan perilaku konsumen yang menjadi lebih selektif dalam pengambilan keputusan pembelian. Kondisi ini memaksa perusahaan untuk bertindak lebih cerdas dalam merumuskan strategi pertumbuhan mereka.
Data yang dipaparkan dalam forum menunjukkan adanya dikotomi prioritas di kalangan pebisnis Asia Tenggara. "Sebanyak 47% pemimpin bisnis di Asia Tenggara menjadikan inovasi sebagai penggerak utama pertumbuhan mereka," sebut salah satu pemateri, merangkum temuan survei.
Namun, di sisi lain, fokus finansial juga sangat ketat terlihat dari hasil survei serupa. "Sebanyak 56% Chief Financial Officer (CFO) memprioritaskan optimalisasi biaya secara ketat pada sepanjang tahun 2026," ujar narasumber tersebut lebih lanjut.
Isu mengenai implementasi teknologi, khususnya Kecerdasan Buatan (AI), juga menjadi pembahasan krusial. Meskipun adopsi teknologi meningkat pesat, hasil yang didapatkan belum sepenuhnya memuaskan.
"Sebanyak 91% organisasi berencana untuk meningkatkan investasi mereka pada teknologi AI, namun hanya 25% yang melaporkan bahwa mereka telah mencapai Return on Investment (ROI) yang sesuai dengan harapan mereka," ungkap seorang analis data dalam sesi diskusi.