JAKARTA, BisnisMarket.com - Proyek Enhanced Oil Recovery (EOR) di lapangan minyak Jirak, Kalimantan Timur, kembali menjadi sorotan tajam. Kegagalan proyek ini dalam mencapai target produksi yang telah ditetapkan tidak hanya menimbulkan kekecewaan, tetapi juga kerugian finansial negara yang fantastis, mencapai Rp440 miliar. Sebuah ironi ketika teknologi canggih yang digadang-gadang mampu mendongkrak produksi migas justru berujung pada realitas pahit.

Target Ambisius, Realitas Mengecewakan

Lapangan minyak Jirak, yang seharusnya menjadi salah satu andalan dalam mendongkrak produksi minyak nasional, justru menunjukkan performa yang jauh dari harapan. Target produksi yang dipasang meleset, menyebabkan potensi pendapatan negara menguap begitu saja. Kegagalan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan proyek-proyek strategis di sektor energi.

Teknologi EOR: Harapan Palsu atau Pelaksanaan Buruk?

Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) memang menawarkan solusi menjanjikan untuk memaksimalkan ekstraksi minyak dari sumur-sumur tua yang cadangannya terus menurun. Namun, di lapangan Jirak, implementasi teknologi ini tampaknya menemui jalan terjal. Alih-alih memberikan hasil optimal, proyek ini justru terindikasi mengalami berbagai kendala yang berujung pada kegagalan mencapai target.

Dilansir dari Bloomberg Technoz (23/4), Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia sebelumnya juga mendorong peningkatan produksi siap jual atau lifting minyak lewat pendekatan chemical EOR bisa diadopsi pada skala yang lebih besar. “Strategi kita sekarang adalah bagaimana meningkatkan lifting dengan mengoptimalkan sumur-sumur tua yang ada, [dengan] teknologi EOR. Kita harus bekerja keras penurunan alamiah itu 10 persen-15 persen, kita harus pertahankan lifting, kemudian kita naikkan,” kata Bahlil di Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025 silam. Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya peran teknologi EOR dalam menjaga ketahanan energi nasional, namun kasus Jirak menjadi catatan kelam yang perlu dievaluasi.

Analisis Kerugian: Lebih dari Sekadar Angka

Kerugian sebesar Rp440 miliar bukan angka yang kecil. Angka ini merepresentasikan potensi pendapatan yang hilang, dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk pembangunan atau sektor lain yang lebih produktif. Lebih jauh lagi, kegagalan proyek EOR Jirak dapat mengikis kepercayaan investor dan publik terhadap kemampuan pengelolaan sektor energi nasional.

Pelajaran Berharga untuk Masa Depan