JAKARTA, BisnisMarket.com– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memulai pekan ini dengan tekanan kuat, menembus Rp17.610/US$, posisi terlemah sepanjang sejarah.
Meskipun kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di pasar, analis menilai peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terbuka jika kebijakan dan strategi fiskal dijalankan secara tepat.
Menurut data Mega Capital Sekuritas, pelemahan rupiah pagi ini tercatat sebesar 0,83% dari Rp17.570/US$ pada pembukaan perdagangan. “Tekanan rupiah saat ini tidak hanya dipicu faktor domestik, tapi juga global. Harga minyak dunia yang naik ke US$111 per barel menekan semua mata uang kawasan, termasuk rupiah,” ujar Fajar Nugroho, Kepala Riset Mega Capital Sekuritas, saat diwawancarai tim Iqbal Ajie Saputra.
Faktor eksternal memang memainkan peran besar. Presiden AS Donald Trump yang kembali menekan Iran untuk mencapai kesepakatan, mendorong kenaikan harga minyak, sehingga meningkatkan risiko inflasi di pasar global. Hampir semua mata uang Asia melemah di awal pekan, dengan rupiah berada di posisi terdepan zona merah.
Sementara itu, dari sisi domestik, data perekonomian menunjukkan pertumbuhan 5,61% yang relatif stabil, tetapi beberapa indikator acuan belum menunjukkan perbaikan signifikan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan penjualan ritel (IPR) masih bergerak lambat, memunculkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan ganda pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Subsidi energi yang diproyeksikan membengkak ditambah penerimaan negara yang belum cukup kuat, menjadi salah satu faktor ketidakpastian.