BISNISMARKET.COM - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang diumumkan oleh PT Pertamina baru-baru ini mulai menimbulkan gelombang kekhawatiran di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bali. Dampak yang diproyeksikan di Pulau Dewata dinilai akan melampaui sekadar peningkatan biaya rutin pengisian bahan bakar kendaraan.
Apa yang terjadi adalah lonjakan harga BBM nonsubsidi yang diumumkan secara resmi oleh Pertamina. Kenaikan ini secara spesifik menyasar jenis Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95), yang merupakan bahan bakar pilihan bagi banyak konsumen dan pelaku usaha.
Di mana hal ini menjadi perhatian utama adalah di Provinsi Bali, sebuah wilayah yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, layanan transportasi, jasa, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sektor-sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian lokal yang kini terancam.
Kapan kenaikan ini mulai dirasakan dampaknya? Dampak ekonomi dari keputusan ini diperkirakan akan segera terasa, menekan margin keuntungan dan biaya operasional di hampir seluruh lini bisnis di Bali.
Mengapa kekhawatiran ini muncul? Sebab, sektor pariwisata dan UMKM rentan terhadap kenaikan biaya input seperti transportasi dan energi. Jika biaya operasional naik, harga jual jasa dan produk kemungkinan besar akan ikut terkerek.
Bagaimana skala kenaikannya? Pertamina menetapkan harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, yang merupakan peningkatan signifikan mendekati 32 persen. Selain itu, Pertamax Green (RON 95) juga mengalami penyesuaian harga.
Pertamax Green (RON 95) kini dijual seharga Rp17.000 per liter, setelah sebelumnya dibanderol pada posisi Rp12.900 per liter. Kenaikan ganda pada dua jenis BBM nonsubsidi ini memperbesar beban biaya bagi pengguna.
Bagaimana dampaknya terhadap daya beli masyarakat? Lonjakan biaya operasional ini berpotensi diteruskan kepada konsumen akhir, yang pada akhirnya akan menggerus daya beli masyarakat Bali secara keseluruhan. Hal ini menjadi isu krusial mengingat pemulihan ekonomi pasca-pandemi masih berlangsung.
"Provinsi yang selama ini mengandalkan sektor pariwisata, transportasi, jasa, dan UMKM itu diperkirakan akan menghadapi tekanan baru akibat melonjaknya biaya operasional di hampir seluruh sektor ekonomi," demikian disampaikan oleh sumber terkait.