JAKARTA, BisnisMarket.com - Dunia otomotif dikejutkan dengan pengumuman resmi dari raksasa Jepang, Honda, yang memutuskan untuk membatalkan proyek ambisius mobil listrik bersama Sony. Kerja sama yang awalnya diprediksi akan merevolusi pasar kendaraan listrik ini harus kandas hanya beberapa bulan sebelum jadwal produksi massal dimulai.
Langkah drastis ini berdampak langsung pada nasib sedan listrik Afeela 1 serta model SUV listrik yang sempat mencuri perhatian di Las Vegas awal tahun ini. Pihak Honda menyatakan bahwa pembatalan proyek internal Seri 0 telah mengubah prinsip operasional bisnis mereka secara fundamental dan menyeluruh.
Sony dan Honda kini dikabarkan tengah meninjau ulang arah bisnis usaha patungan mereka, Sony Honda Mobility (SHM), untuk mengevaluasi tujuan jangka panjang. Perubahan asumsi dasar terkait pemanfaatan teknologi dan aset milik Honda menjadi alasan utama mengapa kolaborasi ini tidak lagi dianggap layak dilanjutkan.
"Asumsi dasar operasi bisnis SHM, seperti pemanfaatan teknologi dan aset tertentu yang direncanakan akan disediakan oleh Honda, telah berubah secara fundamental," tulis perwakilan Honda dalam siaran persnya, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa strategi elektrifikasi perusahaan sedang mengalami pergeseran besar akibat kondisi pasar yang tidak menentu.
Keputusan pahit ini mengakibatkan penghentian total pengembangan seluruh lini Afeela, termasuk rencana peluncuran model sedan dan SUV yang sangat dinantikan. Selain itu, Honda juga mengonfirmasi pembatalan model 0 Saloon, 0 SUV, serta Acura RSX yang sebelumnya dipersiapkan untuk pasar Amerika Serikat.
Penilaian ulang strategi elektrifikasi ini diambil setelah Honda menyadari adanya tantangan berat dalam merespons perubahan lingkungan bisnis otomotif yang sangat dinamis. Penurunan profitabilitas pada model bensin dan hybrid akibat kebijakan tarif baru turut memperparah tekanan finansial yang dialami oleh perusahaan.
Honda memperkirakan akan mencatat kerugian signifikan dalam laporan keuangan konsolidasi untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026 mendatang. Krisis ini memaksa produsen mobil logo "H" tersebut untuk melakukan efisiensi ketat dan memangkas proyek-proyek yang dianggap terlalu berisiko tinggi.
"Bisnis otomotif Honda telah jatuh ke dalam situasi pendapatan yang sangat menantang karena berbagai faktor eksternal dan internal," ungkap manajemen dalam keterangan tertulisnya.