BISNISMARKET.COM - Fenomena membawa camilan di dalam tas tampaknya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian miliaran orang di berbagai belahan dunia. Keberadaan makanan ringan ini seringkali dianggap sebagai pelengkap esensial, baik saat menjalani aktivitas profesional di kantor, menyerap ilmu di bangku perkuliahan, maupun ketika sedang dalam perjalanan.

Fenomena global ini diperkuat oleh data riset pasar yang dirilis oleh Mintel. Studi tersebut mengungkap bahwa kebiasaan mengonsumsi camilan di antara waktu makan utama bukanlah hal yang eksklusif bagi satu negara saja.

Lebih dari 80 persen konsumen di Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat dilaporkan memiliki kebiasaan serupa. Angka ini menunjukkan betapa umum dan meratanya tren ngemil di kalangan masyarakat internasional.

Di Amerika Serikat sendiri, data menunjukkan angka yang lebih mencolok lagi. Lebih dari 90 persen warga negara tersebut dilaporkan rutin mengonsumsi satu hingga tiga camilan setiap harinya.

Hal ini mengindikasikan bahwa kebiasaan ngemil telah menjadi bagian yang sangat lumrah dalam pola makan masyarakat di berbagai negara.

Ketersediaan camilan yang mudah menjadi salah satu faktor utama. Makanan ringan yang ringkas dan praktis memudahkan individu untuk memenuhi kebutuhan energi atau sekadar mengganjal perut kapan pun dan di mana pun.

Selain itu, aspek psikologis juga memainkan peran penting. Ngemil seringkali diasosiasikan dengan kenyamanan, penghargaan diri, atau sebagai cara untuk mengatasi stres dan kebosanan.

Perubahan gaya hidup yang serba cepat juga turut mendorong kebiasaan ini. Dengan jadwal yang padat, waktu makan utama terkadang tergeser, sehingga camilan menjadi solusi instan untuk menjaga energi.

Dikutip dari JAKARTAHYPE.COM, riset pasar global yang dirilis oleh Mintel menunjukkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara.