BISNISMARKET.COM - Perhelatan akbar Kirab Pusaka Malam 1 Suro 2026 yang diselenggarakan di Keraton Surakarta Hadiningrat sebentar lagi akan dilaksanakan. Prosesi budaya tahunan yang sangat sakral ini kini menghadapi tantangan tak terduga menjelang hari pelaksanaan.
Kendala utama muncul dari sisi satwa yang menjadi elemen penting dalam ritual tersebut, yakni kebo bule keturunan Kiai Slamet. Persiapan menjadi terhambat signifikan akibat kondisi fisik dari beberapa kerbau yang disiapkan.
Sebanyak tiga dari lima ekor kebo bule yang telah ditunjuk dilaporkan belum bisa mengikuti sesi gladi Mahesa secara maksimal. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan panitia pelaksana acara tersebut.
Kesiapan seluruh pusaka hidup Keraton merupakan prasyarat mutlak agar ritual berjalan sesuai dengan tata cara adat yang berlaku. Jika ada kendala pada hewan pusaka, kelancaran prosesi bisa terganggu.
Saat ini, hanya dua ekor kerbau dari total lima ekor yang tampak menunjukkan kesiapan penuh untuk mengikuti latihan jalan menjelang puncak acara budaya tersebut. Mereka telah berlatih secara intensif.
Lima ekor kebo bule yang telah disiapkan untuk kirab tahun ini diberi nama Paing, Ponco, Wati, Mugi, dan Suro. Masing-masing kerbau memiliki peran spesifik dalam rangkaian prosesi adat.
Heri Sulistyo, yang menjabat sebagai pawang resmi atau serati kebo bule, memberikan keterangan mengenai dinamika yang terjadi pada kawanan kerbau tersebut. Ia menjelaskan adanya hambatan spesifik yang dihadapi beberapa kerbau.
"Sebanyak tiga dari lima ekor kebo bule keturunan Kiai Slamet dilaporkan belum dapat mengikuti sesi gladi Mahesa secara maksimal," ujar Heri Sulistyo, merinci permasalahan yang dihadapi.
Kondisi ini disebabkan oleh masalah birahi pada tiga ekor kerbau tersebut, yang membuat mereka sulit dikendalikan selama sesi latihan. Hal ini memerlukan penanganan khusus agar mereka siap tepat waktu.