BISNISMARKET.COM - Fenomena baru yang mengkhawatirkan tengah mewarnai lanskap digital Indonesia, yakni kehadiran dokter palsu yang diciptakan oleh kecerdasan buatan (AI). Keberadaan mereka kini secara masif memenuhi berbagai platform media sosial populer, termasuk Facebook dan Instagram.

Isu ini tidak lagi sekadar perkembangan teknologi semata, namun telah berevolusi menjadi ancaman nyata yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat luas.

Sebuah investigasi mendalam yang diselenggarakan oleh The New York Times berhasil mengidentifikasi ratusan iklan yang menampilkan avatar AI. Iklan-iklan tersebut memuat klaim kesehatan yang belum terbukti kebenarannya secara ilmiah.

Pola penayangan iklan-iklan ini dirancang dengan cermat untuk menarik perhatian pengguna media sosial. Seringkali, iklan-iklan tersebut menampilkan pola promosi yang serupa untuk mencapai efektivitas maksimal.

Kecerdasan buatan ini digunakan untuk menciptakan persona dokter virtual yang meyakinkan. Tujuannya adalah untuk memanipulasi persepsi publik mengenai solusi kesehatan yang ditawarkan.

Kelompok usia lanjut atau lansia dilaporkan menjadi sasaran empuk dari modus penipuan ini. Mereka cenderung lebih rentan terhadap informasi kesehatan yang disajikan tanpa verifikasi memadai.

"Ratusan iklan yang menampilkan avatar AI dengan klaim kesehatan yang belum terbukti kebenarannya telah teridentifikasi," demikian temuan dari investigasi tersebut.

"Iklan-iklan ini dirancang sedemikian rupa untuk menarik perhatian, seringkali dengan menggunakan pola yang sama," lanjut temuan investigasi tersebut.

Dikutip dari TREN.BISNISMARKET.COM, fenomena dokter AI ini menunjukkan adanya celah keamanan dan regulasi dalam penyebaran informasi kesehatan di ranah digital. Diperlukan langkah antisipatif untuk melindungi masyarakat.