Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara melontarkan kritik tajam terkait operasional maskapai nasional di kancah mancanegara. Lembaga ini menilai adanya perlakuan yang tidak proporsional terhadap maskapai Garuda Indonesia saat beroperasi di Singapura. Kondisi tersebut dianggap merugikan posisi tawar industri penerbangan tanah air di wilayah regional Asia Tenggara.

Perbandingan jumlah jadwal penerbangan antara kedua maskapai tersebut memperlihatkan jurang pemisah yang sangat lebar. BPI Danantara melihat adanya indikasi penindasan terselubung dalam pembagian slot waktu terbang di rute internasional yang padat tersebut. Singapore Airlines tercatat mendominasi frekuensi perjalanan dibandingkan dengan maskapai pelat merah milik Indonesia secara signifikan.

Situasi ini menjadi perhatian serius karena menyangkut kedaulatan ekonomi dan akses transportasi udara antarnegara tetangga. Ketimpangan tersebut dinilai mencederai semangat kerja sama yang seharusnya memberikan keuntungan seimbang bagi kedua belah pihak. Pemerintah melalui Danantara kini tengah mendalami akar permasalahan yang menyebabkan disparitas frekuensi ini terus terjadi.

Managing Director Stakeholder Management and Communications Danantara, Rohan Hafas, memberikan penjelasan mendalam mengenai regulasi internasional yang berlaku. Beliau menegaskan bahwa Indonesia sejatinya memiliki kesepakatan resiprokal bisnis dengan berbagai negara dalam urusan penerbangan. Hal ini seharusnya menjamin kesetaraan hak operasional bagi setiap maskapai dari negara-negara yang bekerja sama.

Rohan Hafas memaparkan bahwa skema timbal balik ini merupakan standar global yang wajib dipatuhi dalam industri dirgantara. Jika maskapai Indonesia membuka akses langsung ke sebuah negara, maka maskapai negara tersebut berhak mendapatkan akses serupa ke wilayah Indonesia. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang cukup mencolok dan merugikan pihak Garuda.

Danantara kini terus memantau perkembangan isu ini guna memastikan terciptanya keadilan bagi maskapai kebanggaan nasional. Upaya komunikasi diplomatik maupun bisnis kemungkinan besar akan ditempuh untuk menyeimbangkan kembali frekuensi penerbangan yang ada. Evaluasi terhadap perjanjian bilateral di sektor transportasi udara menjadi salah satu opsi strategis yang sedang dipertimbangkan.

Harapannya, tercipta iklim kompetisi yang lebih sehat dan adil bagi Garuda Indonesia di seluruh rute internasional strategis. Pengawasan ketat dari BPI Danantara diharapkan mampu mengakhiri praktik yang dianggap tidak adil oleh otoritas penerbangan Singapura. Ke depannya, azas resiprokal harus benar-benar diimplementasikan secara konsisten demi kemajuan industri penerbangan nasional.

Sumber: Finance.detik

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8374351/danantara-soroti-perilaku-tak-adil-singapore-airlines-ke-garuda