JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah kamu bertanya-tanya, kenapa belakangan ini hampir semua perusahaan teknologi beralasan sama saat memecat karyawan: “karena kecerdasan buatan atau AI sudah menggantikan pekerjaan manusia”? Apakah benar teknologi yang membuat kita kehilangan pekerjaan, atau ada cerita lain yang disembunyikan? Jawabannya baru saja terungkap, dan ternyata jauh berbeda dari apa yang kita dengar selama ini!

Dilansir dari Bloomberg Technoz (11/6), Joe Lonsdale, pendiri Palantir Technologies, perusahaan perangkat lunak raksasa dunia, angkat bicara dan membongkar apa yang sesungguhnya terjadi di balik layar keputusan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang marak terjadi di seluruh dunia saat ini. Menurutnya, narasi bahwa AI menjadi penyebab utama pengurangan tenaga kerja, sering kali hanyalah kedok semata.

AI Hanya Alasan, Bukan Penyebab Asli

Lonsdale menegaskan, akar masalahnya bukanlah teknologi canggih, melainkan kesalahan manajemen di masa lalu. Banyak perusahaan yang dulu sangat agresif merekrut karyawan dalam jumlah besar saat bisnis sedang tumbuh pesat, bahkan sampai melebihi kebutuhan sebenarnya. Ada juga yang menurunkan standar penerimaan karyawan, sehingga kualitas tenaga kerja tidak terjaga. Sekarang, saat kondisi berubah dan harus memangkas biaya, mereka menggunakan AI sebagai alasan yang lebih bisa diterima masyarakat.

“Beberapa perusahaan sebenarnya hanya merekrut terlalu banyak orang atau menurunkan standar perekrutan mereka, lalu sekarang menyebutnya sebagai hasil produktivitas AI,” ujar Lonsdale seperti dikutip Business Insider.

Pernyataan ini langsung mendapat dukungan dari banyak pelaku industri dan investor. Mereka sepakat: tidak semua PHK berhubungan langsung dengan otomatisasi. Sebagian besar justru didorong oleh kondisi ekonomi yang menantang, target pertumbuhan yang gagal dicapai, atau kebutuhan merampingkan organisasi setelah masa ekspansi besar-besaran.

Data Menunjukkan Pola yang Menarik

Data terbaru dari lembaga konsultan ketenagakerjaan Challenger, Gray & Christmas, memperkuat pandangan ini. Pada Mei 2026 saja, sekitar 40% dari total pengurangan pekerjaan yang diumumkan perusahaan di Amerika Serikat dikaitkan dengan AI. Namun lembaga itu menegaskan: belum ada bukti nyata bahwa AI sendiri sudah memicu gelombang kehilangan pekerjaan besar-besaran seperti yang dikhawatirkan banyak orang.

Artinya, AI kini menjadi alasan paling populer dan mudah diterima publik, meski kenyataannya belum sepenuhnya demikian.