JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda membayangkan suatu hari nanti, tabung gas di dapur kita berubah wujud, lebih ringan tapi tetap kuat, dan isinya bukan lagi LPG yang biasa kita kenal? Jawabannya kian nyata di depan mata. Pemerintah resmi mengonfirmasi rencana mendatangkan tabung gas alam terkompresi atau CNG 3 kg dari luar negeri, dan nama China menjadi kandidat utama pemasoknya. Keputusan ini langsung mengundang tanya besar: apakah ini langkah maju cerdas, atau justru membuka peluang ketergantungan baru?

Dilansir dari Bloomberg Technoz diakses pada (19/5), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan langkah ini hanya untuk tahap awal program masifikasi CNG. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menjelaskan alasan utamanya sederhana namun penting: kita belum menguasai teknologi pembuatannya.

“Kan ini teknologinya tinggi. Saat ini yang mampu membuat teknologi itu di luar ya, kita belum. Akan tetapi, kalau skalanya sudah masif, bisa nanti kita alihkan ke dalam,” ujar Laode di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Dia menambahkan, meski ada banyak negara yang memproduksi, sejauh ini China menjadi pilihan paling matang. “Ya China. Banyak sih negara yang ini, tetapi kita sejauh ini China. Iya ada potensi impor dari China, seperti itu. Tahap awal ya,” tegasnya lagi.

Teknologi Canggih, Belum Dikuasai

Tabung CNG 3 kg yang akan didatangkan ini bukan tabung biasa. Berdasarkan kajian pemerintah, tipe yang dikembangkan adalah tipe 4, berbahan dasar plastik atau polimer, dilapisi serat karbon dan kaca. Lebih ringan, lebih aman, dan mampu menahan tekanan tinggi, teknologi yang memang belum dimiliki industri dalam negeri saat ini.

Pemerintah sadar betul tantangan ini. Maka itu, tak sekadar mendatangkan barang jadi, Kementerian ESDM bergerak cepat bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian, Badan Standardisasi Nasional (BSN), hingga Kementerian Ketenagakerjaan. Tujuannya jelas: merumuskan standar, aturan, dan persiapan agar kelak Indonesia bisa memproduksi sendiri.

“Bandan SNI dan Kementerian Ketenagakerjaan yang menerbitkan standarnya. Ini semua kita sedang konsolidasikan semua agar aspek ini bisa kita handle,” jelas Laode saat memaparkan persiapan teknis pekan lalu.

Targetnya, pengembangan dan penyesuaian butuh waktu sekitar 3 bulan. Setelah itu, produksi massal dalam negeri bisa digulirkan. Artinya, impor hanyalah jembatan sementara, bukan jalan yang dituju selamanya.