BISNISMARKET.COM - Gelombang pergantian pucuk pimpinan terjadi di Washington D.C., menandai langkah tegas yang diambil oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Pada Kamis (2/4/2026), Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengambil keputusan mengejutkan terkait posisi tinggi di Angkatan Darat.

Kepala Staf Angkatan Darat AS, Randy George, secara resmi diberhentikan dari jabatannya di tengah meningkatnya tensi militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Keputusan ini menuai sorotan tajam dari berbagai pihak di ibu kota Amerika Serikat.

Pentagon telah memberikan konfirmasi resmi mengenai pencopotan George, yang sebetulnya masih memiliki sisa masa jabatan lebih dari satu tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pemecatan tersebut dilakukan secara mendadak dan bukan karena akhir masa tugas alami.

"Akan pensiun dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41 mulai berlaku segera," demikian bunyi penjelasan resmi yang dikutip dilansir dari CNBC Internasional pada Jumat (3/4/2026).

Pentagon menyampaikan apresiasi atas dedikasi yang telah diberikan oleh Jenderal George selama bertugas di Angkatan Darat AS. Mereka juga menyampaikan harapan baik untuk masa depannya setelah meninggalkan dinas militer aktif.

"Kami mendoakan yang terbaik untuk masa pensiunnya," kata juru bicara Pentagon dalam sebuah pernyataan resmi.

Selain George, dua pejabat tinggi militer lainnya dilaporkan juga terseret dalam perombakan ini oleh Hegseth. Hal ini diungkapkan oleh dua pejabat anonim yang mengetahui perkembangan internal tersebut.

Dua pejabat tersebut adalah Jenderal David Hodne, yang memegang kendali Komando Transformasi dan Pelatihan Angkatan Darat, serta Mayor Jenderal William Green, yang menjabat sebagai kepala Korps Kapelan Angkatan Darat.

Perombakan ini bukan yang pertama kalinya dilakukan oleh Hegseth, sebab sebelumnya ia telah memberhentikan sejumlah petinggi militer penting lainnya. Di antaranya adalah Jenderal C.Q. Brown dari posisi Kepala Staf Gabungan.