BISNISMARKET.COM - Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada penutupan perdagangan hari Jumat, tanggal 22 Mei 2026. Mata uang domestik ini tercatat mengalami kemerosotan sebesar 47 poin dari posisi penutupan sebelumnya.
Posisi akhir Rupiah pada akhir pekan tersebut berada di level Rp 17.716 untuk setiap satu dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini menandai tantangan bagi stabilitas mata uang nasional di tengah dinamika pasar keuangan global.
Pelemahan yang terjadi pada penutupan hari Jumat tersebut merupakan kelanjutan dari tren negatif yang telah terlihat sejak sesi pembukaan pasar. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan jual yang berkelanjutan sepanjang hari perdagangan.
Sebelumnya, pada awal sesi perdagangan, Rupiah diketahui telah dibuka dalam posisi yang sedikit tertekan. Penurunan awal yang tercatat saat pembukaan pasar adalah sebesar 16 poin.
Secara persentase, penurunan pada pembukaan pasar tersebut setara dengan pelemahan sebesar 0,09 persen dari kurs penutupan hari sebelumnya. Saat itu, Rupiah berada pada level Rp 17.683 per dolar AS.
Adapun faktor utama yang mendorong pelemahan ini adalah adanya tekanan geopolitik global yang sedang berlangsung. Selain itu, proyeksi mengenai kebijakan suku bunga di pasar internasional turut memberikan sentimen negatif terhadap mata uang negara berkembang.
Dinamika pasar ini menunjukkan bahwa sentimen investor masih cenderung menghindari risiko atau risk-off. Hal ini secara otomatis menyebabkan aliran modal keluar dari aset berisiko seperti mata uang Rupiah.
Faktor-faktor eksternal tersebut menjadi pendorong utama mengapa Rupiah harus berakhir di posisi yang lebih rendah pada penghujung pekan tersebut, sebagaimana tersirat dalam analisis pasar terkini.
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, pergerakan ini memberikan gambaran mengenai sensitivitas Rupiah terhadap isu-isu makroekonomi dan politik internasional yang berkembang.