JAKARTA, BisnisMarket.com -
Dunia ekonomi masih bergerak liar, penuh ketidakpastian, risiko gejolak harga,
hingga perubahan arus modal yang tak terduga. Namun Indonesia tak diam saja!
Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Purbaya Yudhi Sadewa baru saja merilis 9 strategi fiskal
andalan, disusun secara responsif dan antisipatif, agar perekonomian nasional
tetap stabil, aman, dan terus bertumbuh dan berkembang meski badai krisis
menerpa di mana-mana. Dilansir dari pemberitaan nasional (10/6), langkah ini
disampaikan langsung dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, sebagai
pondasi utama menjaga ketahanan ekonomi tahun ini hingga 2027.
“Pemerintah bersama otoritas terkait akan terus
menjaga stabilitas sektor keuangan, memperkuat koordinasi kebijakan, dan
meningkatkan kepercayaan pasar, agar arus modal kembali ke level harga sesuai
nilai fundamentalnya,” tegas Purbaya. Ia meyakini, dengan langkah tepat, pasar
dalam negeri akan kembali menjadi penopang pembiayaan ekonomi dan instrumen
investasi yang menguntungkan bagi semua pihak.
Berikut rincian lengkap sembilan strategi tersebut,
yang dirancang untuk menyentuh semua sisi penting kehidupan ekonomi masyarakat
dan dunia usaha:
Amankan Harga dan Pasokan Kebutuhan Pokok
Tiga langkah awal paling krusial: pertama, menjaga
stabilitas harga BBM bersubsidi agar tak membebani biaya hidup dan usaha.
Kedua, mengendalikan harga pangan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap
terjangkau. Ketiga, menjamin pasokan energi dan stok beras selalu cukup di
tingkat aman, agar tak ada kelangkaan yang memicu gejolak harga lebih parah.
Ini sejalan prinsip ketahanan pangan dan energi yang menjadi prioritas utama
pemerintah, sebagaimana juga ditegaskan dalam kerangka ekonomi makro nasional.
Disiplin Fiskal: Defisit Terkendali di Bawah 3 persen
PDB
Keempat, komitmen kuat menjaga defisit anggaran di
bawah ambang batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Aturan ini
menjadi garis pertahanan agar keuangan negara tetap sehat, terpercaya, dan tak
terbebani utang berlebih, sesuai amanat UU Keuangan Negara dan rekomendasi
lembaga internasional seperti IMF dan OECD. Kelima, fokus efisiensi dan
penyesuaian prioritas belanja, memangkas pengeluaran tak mendesak agar anggaran
tepat sasaran dan berdampak nyata.
Keenam, mengoptimalkan pendapatan negara berbasis
Sumber Daya Alam (SDA), sekaligus memperbaiki tata kelola ekspornya agar nilai
tambah dinikmati di dalam negeri. Kebijakan ini juga dibarengi pengaturan
Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk menjaga kestabilan nilai tukar dan cadangan
devisa, langkah yang terbukti memperkuat ketahanan makroekonomi Indonesia
belakangan ini.
Lindungi Daya Beli dan Dorong Pertumbuhan