TEHERAN, BisnisMarket.com – Keputusan Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk memblokade Selat Hormuz sebagai respons atas serangan udara Israel-AS telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar keuangan dan komoditas dunia.

Para ekonom memperingatkan bahwa jika penutupan ini berlangsung lebih dari beberapa minggu, dunia akan menghadapi krisis ekonomi yang lebih parah daripada krisis energi tahun 1970-an.

1. Meroketnya Harga Minyak Dunia

Selat Hormuz adalah jalur bagi sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau setara dengan 20% konsumsi minyak mentah dunia.

 Analis dari Goldman Sachs dan Rystad Energy memprediksi harga minyak mentah (Brent) bisa melampaui $120 hingga $150 per barel dalam waktu singkat. Pada 1 Maret 2026, harga dilaporkan telah melonjak $20 hanya dalam hitungan jam setelah berita penutupan tersebut terkonfirmasi.

Dampak Sektoral: Kenaikan harga minyak mentah secara otomatis menaikkan biaya bahan bakar (BBM), tarif angkutan laut, dan biaya operasional industri manufaktur.

2. Krisis Pasokan Gas Alam Cair (LNG)

Bukan hanya minyak, Selat Hormuz adalah jalur utama bagi ekspor LNG dari Qatar, salah satu produsen gas terbesar dunia.

 Negara-negara Eropa yang sedang beralih dari gas Rusia serta negara-negara industri di Asia (Jepang, Korea Selatan) akan menghadapi kelangkaan energi yang ekstrem, memicu kenaikan tarif listrik rumah tangga dan industri.