JAKARTA, BisnisMarket.com -
Di tengah dinamika pasar modal yang terus bergerak, saham PT Chandra Daya
Investasi Tbk (CDIA) menjadi sorotan tersendiri. Perusahaan yang baru melangkah
cukup lama ini menunjukkan langkah pertumbuhan yang terlihat ambisius, namun di
balik catatan kinerja yang mulai membaik, tersimpan sejumlah catatan penting
yang membuat analis menilai harganya sudah melampaui batas wajar.
Valuasi Jauh Melampaui Rata-rata Industri
Dilansir dari Bloomberg Technoz (7/7), Panin Sekuritas
menilai CDIA diperdagangkan dengan harga yang relatif mahal dibandingkan emiten
sejenis. Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia, menyampaikan bahwa saat ini
CDIA memiliki rasio nilai perusahaan terhadap laba sebelum bunga, pajak,
penyusutan, dan amortisasi (EV/EBITDA) mencapai 132 kali. Angka ini terbilang
sangat tinggi jika dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis yang hanya berada
di kisaran 5 kali saja.
“Perbedaan valuasi yang sangat lebar tersebut membuat
saham CDIA dinilai telah mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat
tinggi,” ujar Sarkia, dikutip dari laporan risetnya.
Selain itu, ada satu hal lain yang menjadi perhatian
khusus bagi calon pembeli maupun pemegang saham saat ini, yaitu jumlah saham
yang beredar di masyarakat atau free float yang masih terbatas. Porsinya
tercatat masih berada di bawah 10 persen, sehingga pergerakan harga saham
berpotensi lebih labil dan sulit dicairkan dalam jumlah besar.
Fondasi Bisnis yang Kuat
Meskipun valuasinya dianggap mahal, bukan berarti
prospek jangka panjang CDIA tidak memiliki daya tarik. Perseroan bergerak di
bidang investasi infrastruktur dengan portofolio yang mencakup sektor energi,
logistik, pelabuhan, penyimpanan, hingga pengelolaan air. Semua lini usaha ini
didukung oleh ekosistem bisnis yang kuat dari Grup Chandra Asri.
Dalam waktu kurang dari dua tahun sejak didirikan,
CDIA telah berhasil membangun 12 entitas anak dan perusahaan asosiasi melalui
serangkaian pembelian aset maupun pendirian usaha baru. Setelah melantai di
bursa, perseroan juga menambah lima kapal baru, yang mendorong pendapatan
segmen logistik naik 45 persen dan laba operasional (EBITDA) tumbuh 67,6 persen
secara tahunan pada kuartal I-2026 menjadi sekitar 9 juta dolar AS.
“Kami menilai strategi ekspansif yang terdiversifikasi
di setiap segmen bisnis, didukung ekosistem grup holding yang kuat, akan
menjadi katalis pertumbuhan utama perseroan ke depannya,” tegas Sarkia.