JAKARTA, BisnisMarket.com -
Bank Indonesia (BI) baru saja mengambil langkah berani menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Rabu (20/5/2026). Langkah ini
disambut harapan besar agar rupiah segera bangkit dari tekanan berat terhadap
Dolar AS yang belakangan ini terus melemah hingga mendekati level Rp17.700.
Namun, ada kabar mengejutkan: obat ini ternyata cuma bekerja sebentar saja, dan
dampak buruknya justru mengancam pertumbuhan ekonomi kita!
Dilansir dari Bloomberg Technoz (21/5), Ahmad Tauhid,
Ekonom Senior INDEF, memberikan peringatan keras. Menurutnya, penguatan rupiah
akibat kenaikan suku bunga ini hanya bertahan satu hingga dua bulan saja.
“Short term saya kira memang rupiah akan menguat gitu ya. Tetapi kuartal ke-3
atau ke-4 belum tentu. Short term artinya 1 bulan, 2 bulan lah. Tapi kuartal
ke-3, 4 itu bisa jadi berubah,” ungkapnya tegas.
Mengapa Cuma Jangka Pendek? Faktor
Struktural Jadi Penentu
Mengapa kebijakan yang seharusnya ampuh ini ternyata
tak bertahan lama? Jawabannya ada pada hal-hal mendasar yang belum selesai.
Investor tidak hanya melihat angka suku bunga, tetapi juga kepercayaan terhadap
kondisi dalam negeri. Ada kekhawatiran besar akibat keluarnya sejumlah saham
Indonesia dari indeks MSCI, serta rencana pembentukan badan usaha pengelola
ekspor Sumber Daya Alam yang dianggap menimbulkan ketidakpastian aturan.
Ditambah lagi, posisi Amerika Serikat yang masih
berjuang menekan inflasi membuat suku bunga The Fed kemungkinan besar sulit
turun tahun ini. Tekanan eksternal ini menggeser titik keseimbangan baru
rupiah. “Saya kira itu yang membuat kualitas nilai tukar tidak mudah untuk
kembali di bawah Rp17.000. Menurut saya nilai keseimbangan barunya di atas
sedikit ke Rp17.000 lah,” jelas Tauhid. Analisis dari Samuel Sekuritas juga
mengonfirmasi hal serupa, bahwa efek suku bunga hanya bertahan sementara jika
fundamental belum diperbaiki.
Harga Mahal: Kredit Melambat, Pertumbuhan
Terancam
Konsekuensi paling nyata dan langsung terasa adalah di
dunia perbankan dan usaha. Kenaikan 50 basis poin ini pasti akan diikuti bank
dengan menaikkan bunga pinjaman. “Pasti suku bunga bank setidaknya langsung
merespons cepat. Menurunkan itu sulit tetapi kalau menaikkan bank bergerak
cepat. 50 basis poin oleh BI bisa jadi lebih tinggi. Karena biaya dana naik
cukup besar,” ujar Tauhid. Dampaknya? Pertumbuhan kredit yang kini ada di angka
10 persen diprediksi anjlok jadi sekitar 8 persen saja.
Ini berarti akses modal usaha makin sulit dan mahal.
Berdasarkan data Bank Indonesia, transmisi kenaikan suku bunga ke kredit memang
berjalan cepat, tetapi perlambatan ini langsung menahan laju aktivitas ekonomi.
Akibatnya, target pertumbuhan ekonomi yang dipatok 5,4 persen tahun ini
dipastikan sangat berat dicapai. “Kalau [mencapai target] 5,4 persen rasanya
berat ya. Agak berat karena saya kira momentumnya sudah hilang,” tegas Tauhid.
Biasanya pertumbuhan tertinggi ada di kuartal awal, tetapi sekarang tinggal
bergantung sepenuhnya pada belanja pemerintah.
Solusi Sesungguhnya: Kendalikan Fiskal dan
Perbaiki Kepercayaan