JAKARTA, BisnisMarket.com - Di tengah upaya mencapai kemandirian energi, Indonesia diprediksi masih akan sangat bergantung pada impor minyak dan gas (migas) pada tahun 2025. Pertanyaan krusialnya, negara mana saja yang akan menjadi pemasok utama kebutuhan energi nasional kita? Mungkinkah Singapura, Australia, atau justru negara-negara Timur Tengah dan Amerika Serikat yang akan mendominasi?

Singapura: Gerbang Utama Impor Migas RI

Singapura, sebuah negara kota yang strategis di jalur perdagangan global, kembali diprediksi akan menjadi negara asal impor migas terbesar bagi Indonesia di tahun 2025. "Negara asal impor terbesar migas pada 2025 ini Singapura yaitu US$9,72 miliar," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026) dilansir dari Bloomberg Technoz. Dengan asumsi kurs Rp16.000 per Dolar AS, angka ini setara dengan Rp155,52 triliun. Angka fantastis ini menunjukkan betapa vitalnya peran Singapura dalam rantai pasok energi Indonesia, meskipun bukan sebagai produsen utama, melainkan sebagai hub distribusi.

Australia dan Malaysia: Tetangga yang Terus Berkontribusi

Tak hanya Singapura, negara-negara tetangga seperti Australia dan Malaysia juga diproyeksikan akan terus menjadi kontributor penting dalam pemenuhan kebutuhan migas Indonesia. Kedekatan geografis dan jalinan hubungan dagang yang solid menjadikan kedua negara ini pilihan logis untuk pasokan energi.

Arab Saudi dan Amerika Serikat: Raksasa Energi Global

Di luar negara-negara Asia Tenggara, Arab Saudi dan Amerika Serikat, sebagai dua produsen migas terbesar di dunia, juga diprediksi akan tetap menjadi pemain kunci dalam daftar negara asal impor migas Indonesia. Keberadaan mereka dalam daftar ini menegaskan skala kebutuhan energi nasional yang besar dan diversifikasi sumber pasokan yang dilakukan Indonesia.

Mengapa Impor Migas Masih Menjadi Realitas?

Meskipun Indonesia dianugerahi kekayaan sumber daya alam, realitasnya produksi migas domestik terus menghadapi tantangan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam keterangannya kepada Bloomberg Technoz, mengindikasikan bahwa produksi migas nasional belum mampu sepenuhnya mengimbangi laju konsumsi yang terus meningkat. Hal ini diperparah oleh minimnya investasi baru di sektor eksplorasi dan eksploitasi hulu migas, yang menghambat upaya peningkatan cadangan dan produksi secara signifikan.