BISNISMARKET.COM - Museum bukan sekadar gudang artefak bersejarah, melainkan jendela menuju warisan budaya, pusat riset, hingga sarana pembelajaran yang vital. Di Jakarta, museum menawarkan pengalaman edukatif yang tak ternilai dengan biaya terjangkau bagi masyarakat luas.
Bagi para pelajar, kunjungan ke museum menjadi metode pembelajaran yang imersif. Mereka dapat berinteraksi langsung dengan koleksi bersejarah, memperdalam pemahaman sejarah dan budaya Indonesia, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air.
Menelisik jejak sejarah Jakarta, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mencatat data kunjungan hingga Maret 2026. Museum Sejarah Jakarta, yang juga dikenal sebagai Museum Fatahillah, menjadi destinasi paling populer di kalangan pelajar.
Museum yang mulai beroperasi pada 30 Maret 1974 ini berhasil menarik perhatian 237.643 pelajar. Koleksinya yang mencapai 486 benda bersejarah menjadi daya tarik utama bagi para siswa.
Di peringkat kedua, Museum Wayang berhasil memikat 127.461 pelajar. Museum ini didedikasikan untuk melestarikan seni pewayangan Indonesia dengan koleksi sekitar 5.373 wayang dari berbagai daerah.
Posisi ketiga ditempati Museum Seni Rupa dan Keramik, yang dikunjungi oleh 52.465 pelajar. Museum ini memamerkan sekitar 450 karya seni lukis dan sketsa, serta lebih dari 5.000 koleksi keramik Nusantara.
Museum seni ini juga menyimpan artefak berharga yang ditemukan dari muatan kapal tenggelam, menambah nilai sejarah dan edukasinya.
Selain ketiga museum tersebut, beberapa institusi lain juga menjadi tujuan favorit pelajar. Museum Betawi mencatat 41.361 pengunjung, disusul Museum Bahari (17.530), Museum Tekstil (14.878), dan Museum Joang 45 (5.955).
Museum Situs Marunda atau Rumah Si Pitung menarik 3.449 pelajar, sementara Museum Arkeologi Onrust dikunjungi 2.206 pelajar, dan Museum MH Thamrin meraih 1.679 pengunjung.