BISNISMARKET.COM - Jakarta menjadi pusat perhatian ketika membahas perilaku unik yang sering diasosiasikan dengan orang-orang dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Perilaku yang kadang dianggap janggal tersebut sebenarnya merupakan manifestasi dari cara kerja otak yang sangat aktif dan berbeda dari kebanyakan orang.
Fenomena ini telah menarik perhatian para peneliti untuk mengamati korelasi antara perilaku sehari-hari dengan kapasitas kognitif yang tinggi. Berbagai studi telah merangkum sejumlah kebiasaan spesifik yang ternyata sering ditemukan pada individu genius.
Salah satu kebiasaan yang paling menonjol adalah kecenderungan untuk lebih memilih kesendirian dibandingkan keramaian sosial. Individu cerdas sering kali merasa lebih nyaman saat menghabiskan waktu berkualitas sendirian (me time).
Hal ini didukung oleh sebuah riset yang dilakukan oleh dua peneliti terkemuka mengenai preferensi sosial ini. "Orang dengan kecerdasan di atas rata-rata justru merasa lebih nyaman saat punya waktu untuk diri sendiri (me time)," sebut Norman Li dan Satoshi Kanazawa mengenai hasil penelitian mereka.
Bagi mereka yang memiliki IQ tinggi, waktu menyendiri ini berfungsi sebagai mekanisme penting untuk mengistirahatkan pikiran yang terus bekerja secara intens. Mereka melihatnya sebagai cara terbaik untuk memproses informasi dan memulihkan energi mental.
Selain itu, banyak orang cerdas memiliki lingkungan kerja atau kamar yang cenderung terlihat berantakan, sebuah ciri yang sering disalahpahami sebagai kemalasan. Studi menunjukkan bahwa kekacauan visual terkadang dapat memicu munculnya ide-ide baru yang inovatif.
Temuan dari University of Minnesota mengindikasikan bahwa lingkungan yang tidak terlalu teratur dapat menjadi stimulan positif bagi kreativitas. Profesor Robert J. Sternberg turut memberikan perspektif mengenai hal ini.
"Inti dari kecerdasan adalah bagaimana kita belajar dari pengalaman dan memahami lingkungan sekitar, bukan soal serapi apa meja kerja kita," ujar Profesor Robert J. Sternberg, menekankan bahwa fungsi kognitif lebih utama daripada kerapian fisik.
Ironisnya, kebalikan dari anggapan umum, orang yang sangat cerdas justru sering menunjukkan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Mereka cenderung lebih kritis terhadap pencapaian pribadi mereka dibandingkan orang lain.