JAKARTA, BisnisMarket.com - Pernahkah Anda merasa belanja jadi lebih hemat atau menunda membeli barang yang tidak mendesak? Ternyata, perasaan itu dirasakan banyak orang dan tercatat dalam data resmi! Kondisi belanja masyarakat mengalami perubahan besar, dan angkanya menyentuh titik terendah hampir tiga tahun terakhir. Ada apa sebenarnya dengan daya beli kita?

Dilansir dari Bloomberg Technoz (11/6), Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Penjualan Eceran terbaru yang memotret kondisi perdagangan di bulan April hingga Mei 2026. Data ini menjadi gambaran nyata seberapa kuat ekonomi masyarakat saat ini.

April: Anjlok Paling Parah Sejak 2023

Bulan April menjadi momen yang berat bagi pelaku usaha ritel. Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat di angka 226,9, turun 3,7 persen dibanding tahun lalu. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan Maret yang masih tumbuh 3,4 persen. Ini penurunan terbesar sejak Mei 2023, atau hampir tiga tahun lamanya.

Secara bulanan, penurunannya bahkan lebih tajam, mencapai 11,6 persen, berbalik arah drastis dari Maret yang naik 10,3 persen. Mengapa bisa begitu?

Menurut BI, hal ini murni karena penyesuaian kebiasaan belanja. "Kontraksi ini terjadi akibat normalisasi permintaan setelah periode Ramadan dan Idul Fitri yang jatuh pada Maret," jelas laporan tersebut. Artinya, lonjakan belanja saat hari besar sudah selesai, dan masyarakat kembali berbelanja biasa saja.

Meski turun, ada beberapa kelompok barang yang masih bertumbuh positif, yaitu suku cadang kendaraan, perlengkapan rumah tangga, serta barang budaya dan rekreasi. Kelompok ini jadi penopang agar penurunan tidak makin parah.

Mei: Mulai Pulih, Tapi Belum Kembali Positif

Kabar sedikit lebih baik datang dari data Mei. IPR diprakirakan di angka 225, turun 0,9 persen dibanding tahun lalu. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan April, meski masih tercatat menurun.