Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data terbaru mengenai dinamika perdagangan antara Indonesia dan China sepanjang tahun 2025. Laporan Indikator Ekonomi Desember 2025 tersebut mengungkap adanya tren yang cukup kontradiktif bagi perekonomian nasional. Meski angka pengiriman barang keluar meningkat, tantangan besar muncul dari sisi arus masuk barang yang tumbuh lebih agresif.
Berdasarkan data resmi yang dikutip pada Senin (2/3/2024), total nilai ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu mencapai US$67,03 miliar pada tahun 2025. Pencapaian ini menandai adanya pemulihan yang signifikan jika dibandingkan dengan performa pada tahun sebelumnya. Pada periode 2024, nilai ekspor sempat mengalami kelesuan dan hanya menyentuh angka US$62,73 miliar.
Fluktuasi nilai perdagangan ini sebenarnya telah terlihat sejak tiga tahun terakhir dalam catatan statistik pemerintah. Pada tahun 2023, Indonesia sempat membukukan nilai ekspor ke China sebesar US$65,03 miliar sebelum akhirnya terkoreksi di tahun berikutnya. Namun, lonjakan impor yang terjadi saat ini dikhawatirkan akan menggerus keuntungan yang didapat dari kenaikan nilai ekspor tersebut.
Pendorong utama kenaikan kinerja ekspor di tahun 2025 ternyata bersumber dari sektor nonmigas yang tumbuh cukup pesat. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, nilai ekspor nonmigas ke China berhasil menyentuh angka US$64,82 miliar. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan yang solid dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang tercatat sebesar US$60,52 miliar.
Di sisi lain, sektor minyak dan gas bumi (migas) justru menunjukkan performa yang cenderung mendatar tanpa ada perubahan berarti. Nilai ekspor migas pada Januari-Desember 2025 tercatat tetap bertahan di level US$2,21 juta, sama persis dengan pencapaian tahun sebelumnya. Kondisi stagnan ini memperlihatkan bahwa ketergantungan ekspor masih bertumpu pada komoditas nonmigas di pasar global.
Meskipun ekspor menunjukkan tren positif, lonjakan impor dari China justru tumbuh dengan kecepatan yang jauh lebih tajam. Situasi ini memicu kekhawatiran serius terhadap potensi melebarnya defisit neraca perdagangan antara kedua negara di masa depan. Pemerintah kini dituntut untuk lebih waspada dalam mengelola arus barang masuk agar tidak membebani stabilitas ekonomi makro.
Secara keseluruhan, laporan BPS ini memberikan gambaran jelas mengenai tantangan perdagangan bilateral yang semakin kompleks bagi Indonesia. Pemerintah harus mampu mengoptimalkan nilai tambah produk ekspor guna mengimbangi derasnya arus impor barang dari China. Strategi diversifikasi pasar dan penguatan industri dalam negeri menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan.
Sumber: Bloombergtechnoz