BISNISMARKET.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan fase koreksi dan menghadapi tekanan cukup berat pada perdagangan hari Senin, 18 Mei 2026. Proyeksi ini muncul sebagai respons atas sentimen negatif yang terjadi pada penutupan sesi perdagangan sebelumnya.
Tekanan signifikan tersebut terlihat jelas ketika IHSG tercatat mengalami penurunan tajam dengan koreksi sebesar 1,98%. Akibatnya, indeks acuan pasar saham nasional tersebut harus ditutup pada level penutupan di angka 6.723.
Aktivitas jual yang masif ini terutama dipicu oleh perilaku investor asing yang secara konsisten melakukan aksi jual bersih atau net selling di pasar reguler. Kejadian ini menjadi faktor utama yang memperparah pelemahan yang sudah ada di dalam negeri.
Secara kuantitatif, nilai total dari penjualan bersih yang dilakukan oleh investor asing tercatat sangat besar. Angka penjualan bersih oleh pelaku pasar asing tersebut mencapai Rp 1,35 triliun pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Kondisi ini menunjukkan adanya arus keluar modal asing yang signifikan dari pasar saham Indonesia. Arus keluar ini secara langsung berdampak pada pelemahan nilai tukar Rupiah dan tekanan lanjutan terhadap IHSG.
Dengan mempertimbangkan dinamika tersebut, para analis memproyeksikan bahwa IHSG berpotensi tertekan lebih jauh. Level proyeksi penutupan yang diperkirakan akan dihadapi oleh indeks adalah berada di kisaran 6.532.
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, tekanan jual yang kuat ini diperparah oleh aktivitas masif investor asing yang melakukan aksi jual bersih (net selling) di pasar reguler. Hal ini menggarisbawahi pentingnya memantau pergerakan dana asing.
"Proyeksi ini muncul setelah indeks sesi sebelumnya tercatat mengalami penurunan tajam sebesar 1,98% dan ditutup pada posisi 6.723," demikian analisis mengenai kondisi pasar terkini, seperti yang disampaikan oleh salah satu analis pasar modal.
Lebih lanjut, mengenai besaran kerugian yang ditimbulkan, disebutkan bahwa "Nilai total penjualan bersih oleh investor asing tercatat mencapai Rp 1,35 triliun pada penutupan perdagangan sebelumnya," menurut data yang dihimpun.