BISNISMARKET.COM - Gelombang penolakan terhadap pembangunan pusat data (data center) kini meluas di berbagai negara, memaksa regulator dan pemerintah kota untuk mengambil sikap tegas. Sejumlah wilayah mulai memberlakukan pembatasan bahkan penghentian pembangunan fasilitas baru ini.
Kekhawatiran utama yang mendorong penolakan ini mencakup potensi lonjakan konsumsi listrik yang signifikan. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat kebutuhan energi yang terus meningkat.
Selain itu, tekanan pada pasokan air juga menjadi isu krusial dalam penolakan ini. Ketersediaan air bersih menjadi faktor pembatas dalam operasional data center yang membutuhkan pendinginan intensif.
Keterbatasan lahan yang tersedia menjadi tantangan lain dalam pembangunan data center. Pertumbuhan fasilitas ini membutuhkan ruang yang tidak sedikit, sehingga menimbulkan persaingan dengan kebutuhan lahan lainnya.
Dampak terhadap masyarakat sekitar juga menjadi alasan kuat penolakan. Kebisingan, potensi gangguan lalu lintas, dan kebutuhan energi yang besar dapat mempengaruhi kualitas hidup warga.
Fenomena ini semakin mengemuka seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Kebutuhan akan infrastruktur komputasi yang masif untuk AI mendorong peningkatan pembangunan data center.
"Kekhawatiran utama yang mendorong penolakan ini adalah potensi lonjakan konsumsi listrik, tekanan pada pasokan air, keterbatasan lahan, serta dampak terhadap masyarakat sekitar," demikian dilaporkan dalam berita tersebut.
Pembangunan data center menghadapi tantangan yang semakin besar di berbagai belahan dunia. Regulator dan pemerintah kota kini lebih berhati-hati dalam memberikan izin.
Perkembangan pesat teknologi AI menjadi pemicu utama meningkatnya permintaan akan data center. Hal ini menciptakan dilema antara kemajuan teknologi dan keberlanjutan lingkungan.