JAKARTA, BisnisMarket.com - Bayangkan, anak-anak kita disuruh mempelajari bahasa bangsa Eropa, khususnya bahasa Prancis, padahal kemampuan membaca dan berhitungnya saja masih tertinggal jauh. Sebuah wacana besar baru saja dilontarkan, langsung dari Presiden ke-8 RI, namun justru menuai gelombang kritik tajam dari para pengamat pendidikan. Apakah ini langkah kemajuan, atau justru kebijakan yang melupakan realita di lapangan?

Dilansir dari Bloomberg Technoz diakses pada (29/5), usulan agar seluruh jenjang pendidikan di Indonesia mulai mempelajari bahasa Prancis disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto saat pertemuan bilateral dengan pemimpin Prancis. Alasan utamanya jelas: hubungan kerja sama kedua negara yang makin erat, mulai dari pertahanan, sains, hingga teknologi, diharapkan makin kuat lewat jalur pendidikan. Namun, apa yang terdengar bagus di atas kertas, ternyata dipandang jauh dari kebutuhan mendesak oleh banyak pihak.

Masalah Dasar Belum Tuntas

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji, tegas mengingatkan bahwa langkah ini terasa tidak berpijak pada kenyataan. "Di saat rapor literasi dan numerasi siswa kita masih merah, serta ribuan sekolah rusak belum diperbaiki, instruksi untuk mewajibkan atau memprioritaskan Bahasa Prancis terkesan seperti kebijakan yang kehilangan arah dan tidak menginjak bumi," tegasnya.

Menurutnya, kurikulum saat ini seharusnya fokus memperkuat kemampuan dasar: membaca, matematika, dan sains. Menambah bahasa asing baru, yang secara geopolitik bukan bahasa utama di kawasan Asia-Pasifik, dinilai sebagai langkah yang melompati urgensi nasional. Pendidikan butuh pembenahan sesuai kondisi nyata, bukan kebijakan yang terlihat mendadak atau hanya mengikuti tren luar negeri.

Bahasa Asing: Peluang atau Beban Baru?

Pakar pendidikan lainnya, Ina Liem, punya pandangan lebih seimbang. Ia mengakui bahwa menguasai bahasa asing itu hal positif untuk membuka akses ilmu, budaya, hingga peluang kerja dunia. Namun, ada pelajaran penting dari sejarah: banyak wacana serupa sebelumnya yang digembar-gemborkan, tapi tak pernah benar-benar diterapkan sampai tuntas.

"Ketika sebuah pernyataan disampaikan oleh Presiden, publik menganggap itu arah kebijakan negara. Kalau berulang kali muncul wacana yang tidak realistis untuk dieksekusi, lama-lama kepercayaan publik bisa berkurang," ujarnya. Tantangan pendidikan kita masih panjang: kekurangan guru, ketimpangan kualitas antarwilayah, bahkan kemampuan bahasa Inggris saja masih butuh banyak perbaikan.

Oleh karena itu, saran Ina jelas: bahasa Prancis, Jerman, Jepang, Mandarin, atau Arab sebaiknya jadi mata pelajaran pilihan, bukan kewajiban nasional. Sesuai minat siswa dan kebutuhan daerah, bukan dipaksakan seragam di seluruh Indonesia.